<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://wangsadita.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wangsadita.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2012 00:10:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='wangsadita.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/98a52dc65f44ead69ce47a922d523cfe?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://wangsadita.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wangsadita.wordpress.com/osd.xml" title="" />
	<atom:link rel='hub' href='http://wangsadita.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kerajaan Sumedang Larang (3)</title>
		<link>http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-3/</link>
		<comments>http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 10:23:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wangsadita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wangsadita.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[SILSILAH KERAJAAN SUMEDANG LARANG Prabu Agung Resi Cakrabuana (950 M) Prabu Agung Resi Cakrabuana atau lebih dikenal Prabu Tajimalela dianggap sebagai pokok berdirinya Kerajaan Sumedang. Pada awal berdiri bernama Kerajaan Tembong Agung dengan ibukota di Leuwihideung (sekarang Kecamatan Darmaraja). Ia punya tiga putra yaitu Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Geusan Ulun. Berdasarkan Layang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wangsadita.wordpress.com&amp;blog=17822230&amp;post=76&amp;subd=wangsadita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="blogEntry4855877">
<div>
<p style="text-align:center;"><strong>SILSILAH KERAJAAN SUMEDANG LARANG</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Prabu Agung Resi Cakrabuana (950 M)</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" style="margin-left:0;margin-right:10px;" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR_8Us3nq211zjbQ0Z48YRlh1X7a2cGtivPiVsgu-rQRUjiUbg77g" alt="" width="171" height="239" />Prabu Agung Resi Cakrabuana atau lebih dikenal Prabu Tajimalela dianggap sebagai pokok berdirinya Kerajaan Sumedang. Pada awal berdiri bernama Kerajaan Tembong Agung dengan ibukota di Leuwihideung (sekarang Kecamatan Darmaraja). Ia punya tiga putra yaitu Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Geusan Ulun.<span id="more-76"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan Layang Darmaraja, Prabu Tajimalela memberi perintah kepada kedua putranya (Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung), yang satu menjadi raja dan yang lain menjadi wakilnya (patih). Tapi keduanya tidak bersedia menjadi raja. Oleh karena itu, Prabu Tajimalela memberi ujian kepada kedua putranya jika kalah harus menjadi raja. Kedua putranya diperintahkan pergi ke Gunung Nurmala (sekarang Gunung Sangkanjaya). Keduanya diberi perintah harus menjaga sebilah pedang dan kelapa muda (duwegan/degan). Tetapi, Prabu Gajah Agung karena sangat kehausan beliau membelah dan meminum air kelapa muda tersebut sehingga beliau dinyatakan kalah dan harus menjadi raja Kerajaan Sumedang Larang tetapi wilayah ibu kota harus mencari sendiri. Sedangkan Prabu Lembu Agung tetap di Leuwihideung, menjadi raja sementara yang biasa disebut juga Prabu Lembu Peteng Aji untuk sekedar memenuhi wasiat Prabu Tajimalela. Setelah itu Kerajaan Sumedang Larang diserahkan kepada Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung menjadi resi. Prabu Lembu Agung dan pera keturunannya tetap berada di Darmaraja. Sedangkan Sunan Geusan Ulun dan keturunannya tersebar di Limbangan, Karawang, dan Brebes.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah Prabu Gajah Agung menjadi raja maka kerajaan dipindahkan ke Ciguling. Ia dimakamkan di Cicanting Kecamatan Darmaraja. Ia mempunyai dua orang putra, pertama Ratu Istri Rajamantri, menikah dengan Prabu Siliwangi dan mengikuti suaminya pindah ke Pakuan Pajajaran. Kedua Sunan Guling, yang melanjutkan menjadi raja di Kerajaan Sumedang Larang. Setelah Sunan Guling meninggal kemudian dilanjutkan oleh putra tunggalnya yaitu Sunan Tuakan. Setelah itu kerajaan dipimpin oleh putrinya yaitu Nyi Mas Ratu Patuakan. Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai suami yaitu Sunan Corenda, putra Sunan Parung, cucu Prabu Siliwangi (Prabu Ratu Dewata). Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai seorang putri bernama Nyi Mas Ratu Inten Dewata (1530-1578), yang setelah ia meninggal menggantikannya menjadi ratu dengan gelar Ratu Pucuk Umun.</p>
<p style="text-align:justify;">Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Kusumahdinata, putra Pangeran Pamalekaran (Dipati Teterung), putra Aria Damar Sultan Palembang keturunan Majapahit. Ibunya Ratu Martasari/Nyi Mas Ranggawulung, keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Pangeran Kusumahdinata lebih dikenal dengan julukan Pangeran Santri karena asalnya yang dari pesantren dan perilakunya yang sangat alim. Dengan pernikahan tersebut berakhirlah masa kerajaan Hindu di Sumedang Larang. Sejak itulah mulai menyebarnya agama Islam di wilayah Sumedang Larang.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;"><strong> </strong></span>Pada pertengahan abad ke-16, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan Sumedang Larang. Ratu Pucuk Umun, seorang wanita keturunan raja-raja Sumedang kuno yang merupakan seorang Sunda muslimah; menikahi Pangeran Santri (1505-1579 M) yang bergelar Ki Gedeng Sumedang dan memerintah Sumedang Larang bersama-sama serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Pangeran Santri adalah cucu dari Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah dan menyebarkan agama Islam di berbagai penjuru daerah di kerajaan Sunda. Pernikahan Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal dengan Prabu Angkawijaya. Pada masa Ratu Pucuk Umun, ibukota Kerajaan Sumedang Larang dipindahkan dari Ciguling ke Kutamaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari pernikahan Ratu Pucuk Umun dengan Pangeran Santri memiliki enam orang anak, yaitu :</p>
<p style="text-align:justify;">Pangeran Angkawijaya (yang tekenal dengan gelar Prabu Geusan Ulun) Kiyai Rangga Haji, yang mengalahkan Aria Kuda Panjalu ti Narimbang, supaya memeluk agama Islam.Kiyai Demang Watang di Walakung.Santowaan Wirakusumah, yang keturunannya berada di Pagaden dan Pamanukan, Subang.Santowaan Cikeruh.Santowaan Awiluar.Ratu Pucuk Umun dimakamkan di Gunung Ciung Pasarean Gede di Kota Sumedang.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Prabu Geusan Ulun</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong> </strong></span>Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M) dinobatkan untuk menggantikan kekuasaan ayahnya, Pangeran Santri. Ia menetapkan Kutamaya sebagai ibukota kerajaan Sumedang Larang, yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis). Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama, militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putera angkatnya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata atau Rangga Gempol I, yang dikenal dengan nama Raden Aria Suradiwangsa menggantikan kepemimpinannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada masa awal pemerintahan Prabu Geusan Ulun, Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan sedang dalam masa kehancurannya karena diserang oleh Kerajaan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf dalam rangka menyebarkan Agama Islam. Oleh karena penyerangan itu Kerajaan Pajajaran hancur. Pada saat-saat kekalahan Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi sebelum meninggalkan Keraton beliau mengutus empat prajurit pilihan tangan kanan Prabu Siliwangi untuk pergi ke Kerajaan Sumedang dengan rakyat Pajajaran untuk mencari perlindungan yang disebut Kandaga Lante. Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran, kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger, tampekan, dan kilat bahu (pusaka tersebut masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun si Sumedang). Kandaga Lante yang menyerahkan tersebut empat orang yaitu Sanghyang Hawu atau Embah Jayaperkosa, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun pada waktu itu tempat penobatan raja direbut oleh pasukan Banten (wadyabala Banten) tetapi mahkota kerajaan terselamatkan. Dengan diberikannya mahkota tersebut kepada Prabu Geusan Ulun, maka dapat dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan menjadi bagian Kerajaan Sumedang Larang, sehingga wilayah Kerajaan Sumedang Larang menjadi luas. Batas wilayah baratnya Sungai Cisadane, batas wilayah timurnya Sungai Cipamali (kecuali Cirebon dan Jayakarta), batas sebelah utaranya Laut Jawa, dan batas sebelah selatannya Samudera Hindia.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara politik Kerajaan Sumedang Larang didesak oleh tiga musuh: yaitu Kerajaan Banten yang merasa terhina dan tidak menerima dengan pengangkatan Prabu Geusan Ulun sebagai pengganti Prabu Siliwangi; pasukan VOC di Jayakarta yang selalu mengganggu rakyat; dan Kesultanan Cirebon yang ditakutkan bergabung dengan Kesultanan Banten. Pada masa itu Kesultanan Mataram sedang pada masa kejayaannya, banyak kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara yang menyatakan bergabung kepada Mataram. Dengan tujuan politik pula akhirnya Prabu Geusan Ulun menyatakan bergabung dengan Kesultanan Mataram dan beliau pergi ke Demak dengan tujuan untuk mendalami agama Islam dengan diiringi empat prajurit setianya (Kandaga Lante). Setelah dari pesantren di Demak, sebelum pulang ke Sumedang ia mampir ke Cirebon untuk bertemu dengan Panembahan Ratu penguasa Cirebon, dan disambut dengan gembira karena mereka berdua sama-sama keturunan Sunan Gunung Jati.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan sikap dan perilakunya yang sangat baik serta wajahnya yang rupawan, Prabu Geusan Ulun disenangi oleh penduduk di Cirebon. Permaisuri Panembahan Ratu yang bernama Ratu Harisbaya jatuh cinta kepada Prabu Geusan Ulun. Ketika dalam perjalanan pulang ternyata tanpa sepengetahuannya, Ratu Harisbaya ikut dalam rombongan, dam karena Ratu Harisbaya mengancam akan bunuh diri akhirnya dibawa pulang ke Sumedang. Karena kejadian itu, Panembahan Ratu marah besar dan mengirim pasukan untuk merebut kembali Ratu Harisbaya sehingga terjadi perang antara Cirebon dan Sumedang.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya Sultan Agung dari Mataram meminta kepada Panembahan Ratu untuk berdamai dan menceraikan Ratu Harisbaya yang aslinya dari Pajang-Demak dan dinikahkan oleh Sultan Agung dengan Panembahan Ratu. Panembahan Ratu bersedia dengan syarat Sumedang menyerahkan wilayah sebelah barat Sungai Cilutung (sekarang Majalengka) untuk menjadi wilayah Cirebon. Karena peperangan itu pula ibukota dipindahkan ke Gunung Rengganis, yang sekarang disebut Dayeuh Luhur.</p>
<p style="text-align:justify;">Prabu Geusan Ulun memiliki tiga orang istri: yang pertama Nyi Mas Cukang Gedeng Waru, putri Sunan Pada; yang kedua Ratu Harisbaya dari Cirebon, dan yang ketiga Nyi Mas Pasarean. Dari ketiga istrinya tersebut ia memiliki lima belas orang anak:</p>
<p style="text-align:justify;">Pangeran Rangga Gede, yang merupakan cikal bakal bupati SumedangRaden Aria Wiraraja, di Lemahbeureum, DarmawangiKiyai Kadu Rangga GedeKiyai Rangga Patra Kalasa, di CundukkayuRaden Aria Rangga Pati, di HaurkuningRaden Ngabehi WatangNyi Mas Demang CipakuRaden Ngabehi Martayuda, di CiawiRd. Rangga Wiratama, di CibeureumRd. Rangga Nitinagara, di Pagaden dan PamanukanNyi Mas Rangga PamadeNyi Mas Dipati Ukur, di BandungRd. Suridiwangsa, putra Ratu Harisbaya dari Panemabahan RatuPangeran Tumenggung TegalkalongRd. Kiyai Demang Cipaku, di Dayeuh Luhur.Prabu Geusan Ulun merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, karena selanjutnya menjadi bagian Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati).</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;"><strong>PEMERINTAHAN DI BAWAH MATARAM</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;"><strong> </strong></span><span style="color:#ff0000;"><strong>Dipati Rangga Gempol</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong></strong></span>Pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620 M Sumedang Larang dijadikannya wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan statusnya sebagai &#8216;kerajaan&#8217; dirubahnya menjadi &#8216;kabupatian wedana&#8217;. Hal ini dilakukannya sebagai upaya menjadikan wilayah Sumedang sebagai wilayah pertahanan Mataram dari serangan Kerajaan Banten dan Belanda, yang sedang mengalami konflik dengan Mataram. Sultan Agung kemudian memberikan perintah kepada Rangga Gempol beserta pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang, Madura. Sedangkan pemerintahan untuk sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Dipati Rangga Gede</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong></strong></span>Ketika setengah kekuatan militer kadipaten Sumedang Larang diperintahkan pergi ke Madura atas titah Sultan Agung, datanglah dari pasukan Kerajaan Banten untuk menyerbu. Karena Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten, ia akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Dipati Ukur</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong></strong></span>Sekali lagi, Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta) yang pada akhirnya menemui kegagalan. Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak dilaporkan segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari pertanggung jawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Pembagian wilayah kerajaan</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;"><strong></strong></span>Setelah habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali untuk memerintah di Sumedang. Sedangkan wilayah Priangan di luar Sumedang dan Galuh (Ciamis), oleh Mataram dibagi menjadi tiga bagian[2]:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>Kabupaten Sukapura</em>, dipimpin oleh <em>Ki Wirawangsa Umbul Sukakerta</em>, <em>gelar Tumenggung Wiradegdaha/R. Wirawangsa</em>, Kabupaten Bandung, dipimpin <em>oleh Ki Astamanggala Umbul Cihaurbeuti, gelar Tumenggung Wirangun-angun</em>, Kabupaten<em>Parakanmuncang, dipimpin oleh Ki Somahita Umbul Sindangkasih, gelar Tumenggung Tanubaya</em>. Kesemua wilayah tersebut berada dibawah pengawasan Rangga Gede (atau Rangga Gempol II), yang sekaligus ditunjuk Mat</span>aram sebagai Wadana Bupati (kepala para bupati) Priangan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Peninggalan budaya</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong></strong></span>Hingga kini, Sumedang masih berstatus kabupaten, sebagai sisa peninggalan konflik politik yang banyak diintervensi oleh Kerajaan Mataram pada masa itu. Adapun artefak sejarah berupa pusaka perang, atribut kerajaan, perlengkapan raja-raja dan naskah kuno peninggalan Kerajaan Sumedang Larang masih dapat dilihat secara umum di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang letaknya tepat di selatan alun-alun kota Sumedang, bersatu dengan Gedung Srimanganti dan bangunan pemerintah daerah setempat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://pupuhusumedang.webs.com/apps/blog/?page=2" target="_blank">Sumber Tulisan : Pupuhu Sumedang</a></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Artikel Berkaitan :</strong></span></p>
<ul>
<li><strong><a title="Kerajaan Sumedang Larang (2)" href="http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-2/">Kerajaan Sumedang Larang (2)</a></strong></li>
<li><strong><a title="Kerajaan Sumedang Larang (1)" href="http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-1/">Kerajaan Sumedang Larang (1)</a></strong></li>
<li><strong><a title="Pangeran Aria Suria Atmaja" href="http://pasulukan.wordpress.com/2011/04/14/pangeran-aria-suria-atmaja/">Pangeran Aria Suria Atmaja</a></strong></li>
</ul>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/analisis/'>Analisis</a>, <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/budaya/'>Budaya</a>, <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/ensiklopedia/'>Ensiklopedia</a>, <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/sejarah/'>Sejarah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wangsadita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wangsadita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wangsadita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wangsadita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wangsadita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wangsadita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wangsadita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wangsadita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wangsadita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wangsadita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wangsadita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wangsadita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wangsadita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wangsadita.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wangsadita.wordpress.com&amp;blog=17822230&amp;post=76&amp;subd=wangsadita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1c46a187f126e0f207ad823743b31ed0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wangsadita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR_8Us3nq211zjbQ0Z48YRlh1X7a2cGtivPiVsgu-rQRUjiUbg77g" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kerajaan Sumedang Larang (2)</title>
		<link>http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-2/</link>
		<comments>http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 10:05:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wangsadita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wangsadita.wordpress.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Sumedang dari Masa ke Masa (Insun Medal dari Masa ke Masa) I. Masa Kerajaan SUMEDANG LARANG “Insun Medal Insun Madangan” Dalam Carita Parahiyangan dan catatan Bujangga Manik bahwa sekitar kaki Gunung Tompo Omas (Tampomas) terdapat sebuah Kerajaan Medang Kahiyangan (252 – 290 M), dan menurut catatan Bujangga Manik juga bahwa posisi Sumedang Larang berada di Cipameungpeuk, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wangsadita.wordpress.com&amp;blog=17822230&amp;post=71&amp;subd=wangsadita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Sumedang dari Masa ke Masa</strong><br />
<strong>(Insun Medal dari Masa ke Masa)</strong></p>
<div>
<h3 style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">I. Masa Kerajaan</span></h3>
<p><strong><img class="alignleft" style="margin-left:0;margin-right:10px;" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRA26Z7iWq-HkoEzZCTZyV-6MP8fJeENFkyAk1o6vAY7hN6WMWYOw" alt="" width="120" height="120" />SUMEDANG LARANG <em>“Insun Medal Insun Madangan”</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Carita Parahiyangan dan catatan Bujangga Manik bahwa sekitar kaki Gunung Tompo Omas (Tampomas) terdapat sebuah Kerajaan Medang Kahiyangan (252 – 290 M), dan menurut catatan Bujangga Manik juga bahwa posisi Sumedang Larang berada di Cipameungpeuk, dilihat dari posisi Sumedang Larang (998 – 1114 M) bahwa yang memegang kekuasaan waktu itu adalah Prabu Pagulingan.<span id="more-71"></span> Dilihat dari masa kedua kerajaan tersebut sangat berjauhan dan tidak ada hubungan sama sekali, berdasarkan penyelusuran penyusun bahwa keturunan dari Medang Kahiyangan merupakan keturunan Raja Salakanagara ke 5 dari Prabu Dharma Satya Jaya Waruna Dewawarman menantu Dewawarman IV, sedangkan menurunkan keturunan Sumedang Larang berasal Manikmaya Kerajaan Kendan menantu Suryawarman raja Tarumanagara ke 7 yang kemudian juga menurunkan raja-raja Galuh dan Sunda.</p>
<p style="text-align:justify;">Cikal bakal berdirinya kerajaan Sumedang Larang berawal dari kerajaan Tembong Agung. Berdirinya kerajaan Tembong Agung sangat erat kaitannya dengan kerajaan Galuh Pakuan yang didirikan oleh Wretikandayun 612 M, sedangkan kerajaan Tembong Agung didirikan oleh Prabu Guru Aji Putih 678 M di Citembong Girang Kecamatan Ganeas Sumedang kemudian pindah ke kampung Muhara Desa Leuwi Hideung Kecamatan Darmaraja. Prabu Guru Aji Putih merupakan putra Ratu Komara keturunan dari Wretikandayun. Prabu Guru Aji Putih hasil pernikahan dengan Dewi Nawang Wulan (Ratna Inten) memiliki empat orang putra; yang sulung bernama Batara Kusuma atau Batara Tuntang Buana yang dikenal juga sebagai Prabu Tajimalela, yang kedua Sakawayana alias Aji Saka, yang ketiga Haris Darma dan yang terakhir Jagat Buana yang dikenal Langlang Buana. Dalam kropak 410 disebutkan pula bahwa Tajimalela itu adalah Panji Romahyang putera Demung Tabela Panji Ronajaya dari Dayeuh Singapura. Tajimalela sejajar dengan tokoh Ragamulya (1340 – 1350) penguasa di Kawali dan Suryadewata ayah Batara Gunung Bitung di Majalengka. Dalam masa pemerintahan Niskala Wastu Kancana (1371 – 1475), Singapura diperintah oleh putranya yang kedua Surawijaya Sakti yang kemudian digantikan oleh adiknya Ki Gedeng Sindangkasih, putra Wastu Kancana yang ketiga yang disebut Mangkubumi Sumedang Larang karena waktu itu Sumedang Larang menjadi kerajaan bawahan Galuh. Kemunculan Sumedang Larang tentu sejalan dengan kasus kemunculan kerajaan Talaga yang dirintis oleh tokoh Praburesi yang tetap berada di bawah Galuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Batara Kusuma sedang bertapa, terjadi suatu keajaiban alam di kaki Gunung Cakrabuana, ketika langit menjadi terang-benderang oleh cahaya yang melengkung mirip selendang (malela) selama tiga hari tiga malam sehingga Batara Kusuma berucap “ In(g)sun Medal In(g)sun Madangan” (In(g)sun artinya “saya”, Medal artinya lahir dan Madangan artinya memberi penerangan) maksudnya “Aku lahir untuk memberikan penerangan” dari kata-kata tersebut terangkailah kata Sumedang, kata Sumedang Larang dapat juga diartikan sebagai “tanah luas yang jarang bandingnya” (Su= bagus, Medang = luas dan Larang = jarang bandingannya), sehingga Batara Kusuma dikenal pula sebagai Tajimalela dan kata Sumedang bisa diambil juga dari kata Su yang berarti baik atau indah dan Medang adalah nama sejenis pohon, Litsia Chinensis sekarang dikenal sebagai pohon Huru, dulu pohon medang banyak tumbuh subur di dataran tinggi sampai ketinggi 700 m dari permukaan laut seperti halnya Sumedang merupakan dataran tinggi. Selain itu Tajimalela menciptakan ilmu Kasumedangan terdiri dari 33 pasal “Sideku Sinuku Tunggal Mapat Pancadria” ilmu yang berisikan hubungan manusia dengan Sang Pecipta dan Antara manusia dengan manusia, seperti yang terpancar dalan tembang Sinom berikut :</p>
<p><em>Sumanget ka Sumedangan</em><br />
<em>Tara ngukut kanti risi</em><br />
<em>Tara reuwas ku beja</em><br />
<em>Sikepna titih carincing</em><br />
<em>Jauh tina hiri dengki</em><br />
<em>Nyekel tetekon nu luhung</em><br />
<em>Gagah bedas tanpa lawan</em><br />
<em>Handap asor hade budi</em><br />
<em>Kasabaran nyata elmu katunggalan</em></p>
<p style="text-align:justify;">Prabu Tajimalela merupakan raja pertama Kerajaan Sumedang Larang (721 – 778 M) yang berkedudukan Tembong Agung Darmaraja dibekas kerajaan Prabu Guru Aji Putih. Prabu Tajimalela mempunyai tiga orang putra yaitu ; yang pertama Jayabrata atau Batara Sakti alias Prabu Lembu Agung, yang kedua Atmabrata atau Bagawan Batara Wirayuda yang dikenal sebagai Prabu Gajah Agung, dan yang terakhir Mariana Jaya atau Batara Dikusuma dikenal sebagai Sunan Ulun, yang pertama menjadi raja kedua Sumedang Larang adalah Lembu Agung (778 – 893 M) kemudian digantikan oleh Gajah Agung. Kisah awal Prabu Gajah Agung sangat mirip kisah awal Kerajaan Mataram menurut versi Babad Tanah Jawi tetapi melihat masa pemerintahannya Prabu Gajah Agung pada tahun 839 M sedangkan Ki Ageng Pamanahan tahun 1582 M, jelas terlihat waktu yang sangat berbeda.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut kisah Babad Tanah Jawi itu Ki Ageng Sela memetik dan menyimpan buah kelapa muda sementara Ki Ageng Sela pergi, datanglah Ki Ageng Pamanahan yang kemudian meminumnya, yang akhirnya Ki Ageng Pamanahan menjadi Raja Mataram sedangkan dalam Babad Darmaraja ketika Prabu Tajimalela menunjuk Lembu Agung untuk menjadi raja Sumedang Larang yang kedua, Lembu Agung menolaknya, Lembu Agung memilih untuk menjadi resi daripada menjadi seorang raja sepertinya adiknya Sunan Ulun menjadi resi demikian pula dengan Gajah Agung menolak. Akhirnya Tajimalela memanggil kedua putera kembarnya yaitu Lembu Agung dan Gajah Agung, ketika kedua puteranya datang Prabu Tajimalela menyuruh kedua puteranya untuk menunggui sebuah kelapa muda dan sebilah pedang di tengah lapangan berapa saat kemudian Prabu Tajimalela pergi meninggalkan mereka berdua, setelah menunggu berapa lama kemudian Prabu Lembu Agung pergi sementara tinggallah Prabu Gajah Agung seorang diri akhirnya Prabu Gajah Agung tak kuat menahan haus kemudian meminumnya buah kelapa tersebut, akhirnya Prabu Tajimalela menunjuk Atmabrata yang dikenal sebagai Prabu Gajah Agung (893 – 998 M) sebagai raja Sumedang Larang kedua, periode pemerintahan kedua keturunan Prabu Tajimalela lebih kepada karesian dari pada keprabuan dan mulai dari sini pusat  Makam Prabu Pagulingan /Jagabaya di Nantung. pemerintahan dipindah dari Darmaraja ke Ciguling Pasanggrahan Sumedang Selatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Prabu Gajah Agung mempunyai putra bernama Wirajaya atau Jagabaya atau dikenal sebagai Prabu Pagulingan (998 – 1114 M) kemudian menjadi raja Sumedang Larang keempat. Setelah wafatnya Prabu Pagulingan digantikan oleh Mertalaya yang dikenal sebagai Sunan Guling (1114 – 1237 M)mempunyai tiga putra; Tirta Kusuma dikenal sebagai Sunan Tuakan, Jayadinata dan Kusuma Jayadiningrat. Setelah Sunan Guling wafat digantikan oleh puteranya bernama Tirtakusuma atau Sunan Tuakan (1237 – 1462 M) sebagai raja Sumedang Larang yang keenam. Sunan Tuakan memiliki tiga putri; yang sulung Ratu Ratnasih alias Nyi Rajamatri diperistri oleh Sri Baduga Maharaja Jaya Dewata Pakuan Pajajaran, yang kedua Ratu Sintawati alias Nyi Mas Ratu Patuakan dan yang ketiga Sari Kencana diperisteri oleh Prabu Liman Sanjaya keturunan Prabu Jaya Dewata.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 378px"><img class="  " title="Situs bekas Benteng Keraton Sumedang Larang di Ciguling – Ds. Pasanggrahan Sumedang Selatan." src="http://img31.imageshack.us/img31/9529/sumedanglarang.jpg" alt="Situs bekas Benteng Keraton Sumedang Larang di Ciguling – Ds. Pasanggrahan Sumedang Selatan." width="368" height="245" /><p class="wp-caption-text">Situs bekas Benteng Keraton Sumedang Larang di Ciguling – Ds. Pasanggrahan Sumedang Selatan.</p></div>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Sunan Tuakan digantikan oleh putrinya yang kedua yang bernama Ratu Sintawati alias Nyai Mas Patuakan (1462 – 1530 M) sebagai raja Sumedang Larang ketujuh, Ratu Sintawati menikah dengan Sunan Corenda raja Talaga putera Ratu Simbar Kancana dari Kusumalaya putra Dewa Niskala penguasa Galuh. Dari Ratu Sintawati dan Sunan Corenda mempunyai putri bernama Satyasih atau dikenal sebagai Ratu Inten Dewata setelah menjadi penguasa Sumedang yang kedelapan bergelar Ratu Pucuk Umum (1530 – 1578 M).</p>
<p style="text-align:justify;">Pada masa Ratu Sintawati agama Islam mulai menyebar di Sumedang pada tahun 1529 M. Agama Islam disebarkan oleh Maulana Muhammad alias Pangeran Palakaran putera Maulana Abdurahman alias Pangeran Panjunan. Pangeran Palakaran menikah dengan Nyi Armilah seorang puteri Sindangkasih Majalengka dan hasil pernikahan tersebut pada tanggal 6 bagian gelap bulan jesta tahun 1427 saka (+ 29 Mei 1505 M) lahirlah seorang putra bernama Rd. Solih atau Ki Gedeng Sumedang alias Pangeran Santri. Kemudian Pangeran Santri menikah dengan Ratu Pucuk Umum, yang akhirnya Pangeran Santri menggantikan Ratu Pucuk Umum sebagai penguasa Sumedang, Pangeran Santri dinobatkan sebagai raja Sumedang Larang dengan gelar Pangeran Kusumadinata I pada tanggal 13 bagian gelap bulan Asuji tahun 1452 saka (+ 21 Oktober 1530 M), Pangeran Santri merupakan murid Sunan Gunung Jati.</p>
<p style="text-align:justify;">Pangeran Santri merupakan penguasa Sumedang pertama yang menganut agama Islam dan berkedudukan di Kutamaya Padasuka sebagai Ibukota Sumedang Larang yang baru, sampai sekarang di sekitar situs Kutamaya dapat dilihat batu bekas fondasi tajug keraton Kutamaya. Pada tanggal 3 bagian terang bulan srawana tahun 1480 saka (+ 19 Juli 1558 M) lahirlah Pangeran Angkawijaya yang kelak bergelar Prabu Geusan Ulun putera dari Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umum. Pada masa pemerintahan Pangeran Santri kekuasaan Pajajaran sudah menurun di beberapa daerah termasuk Sumedang dan pada tanggal 11 Suklapaksa bulan Wesaka 1501 Sakakala atau tanggal 8 Mei 1579 M Pajajaran “Sirna ing bumi” Ibukota Padjajaran jatuh ke tangan pasukan Kesultanan Surasowan Banten . Pada tahun 1578 tepatnya pada hari Jum’at legi tanggal 22 April 1578 atau bulan syawal bertepatan dengan Idul Fitri di Keraton Kutamaya Sumedang Larang Pangeran Santri menerima empat Kandaga Lante yang dipimpin oleh Sanghiang Hawu atau Jaya Perkosa, Batara Dipati Wiradidjaya (Nganganan), Sangiang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana Terong Peot membawa pusaka Pajajaran dan alas parabon untuk di serahkan kepada penguasa Sumedang Larang dan pada masa itu pula Pangeran Angkawijaya / Pangeran Kusumadinata II dinobatkan sebagai raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun (1578 – 1610) sebagai nalendra penerus kerajaan Sunda dan mewarisi daerah bekas wilayah Pajajaran, sebagaimana dikemukakan dalam Pustaka Kertabhumi I/2 (h. 69) yang berbunyi; “<em>Ghesan Ulun nyakrawartti mandala ning Pajajaran kangwus pralaya, ya ta sirnz, ing bhumi Parahyangan. Ikang kedatwan ratu Sumedang haneng Kutamaya ri Sumedangmandala”</em> (Geusan Ulun memerintah wilayah Pajajaran yang telah runtuh, yaitu sirna, di bumi Parahiyangan. Keraton raja Sumedang ini terletak di Kutamaya dalam daerah Sumedang) selanjutnya diberitakan “Rakyan Samanteng Parahyangan mangastungkara ring sira Pangeran Ghesan Ulun” (Para penguasa lain di Parahiyangan merestui Pangeran Geusan Ulun). “Anyakrawartti” biasanya digunakan kepada pemerintahan seorang raja yang merdeka dan cukup luas kekuasaannya. Dalam hal ini istilah “nyakrawartti” maupun “samanta” sebagai bawahan, cukup layak dikenakan kepada Prabu Geusan Ulun, hal ini terlihat dari luas daerah yang dikuasainya, dengan wilayahnya meliputi seluruh Padjajaran sesudah 1527 masa Prabu Prabu Surawisesa dengan batas meliputi; Sungai Cipamali (daerah Brebes sekarang) di sebelah timur, Sungai Cisadane di sebelah barat, Samudra Hindia sebelah Selatan dan Laut Jawa sebelah utara.</p>
<p style="text-align:justify;">Daerah yang tidak termasuk wilayah Sumedang Larang yaitu Kesultanan Banten, Jayakarta dan Kesultanan Cirebon. Dilihat dari luas wilayah kekuasaannya, wilayah Sumedang Larang dulu hampir sama dengan wilayah Jawa Barat sekarang tidak termasuk wilayah Banten dan Jakarta kecuali wilayah Cirebon sekarang menjadi bagian Jawa Barat.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat penobatannya Pangeran Angkawijaya berusia 22 tahun lebih 4 bulan, sebenarnya Pangeran Angkawijaya terlalu muda untuk menjadi raja sedangkan tradisi yang berlaku bahwa untuk menjadi raja adalah 23 tahun tetapi Pangeran Angkawijaya mendapat dukungan dari empat orang bersaudara bekas Senapati dan pembesar Pajajaran, keempat bersaudara tersebut merupakan keturunan dari Prabu Bunisora Suradipati. Dalam Pustaka Kertabhumi I/2 menceritakan keempat bersaudara itu “Sira paniwi dening Prabu Ghesan Ulun. Rikung sira rumaksa wadyabala, sinangguhan niti kaprabhun mwang salwirnya” (Mereka mengabdi kepada Prabu Geusan Ulun. Di sana mereka membina bala tentara, ditugasi mengatur pemerintahan dan lain-lainnya), sehingga mendapat restu dari 44 penguaa daerah Parahiyangan yang terdiri dari 26 Kandaga Lante, Kandaga Lante adalah semacam Kepala yang satu tingkat lebih tinggi dari pada Cutak (Camat) dan 18 Umbul dengan cacah sebanyak + 9000 umpi, untuk menjadi nalendra baru pengganti penguasa Pajajaran yang telah sirna. Tidak semuanya bekas kerajaan bawahan Pajajaran mengakui Prabu Geusan Ulun sebagai nalendra, sehingga terpaksa Prabu Geusan Ulun menaklukan kembali kerajaan-kerajaan tersebut seperti Karawang, Ciasem, dan Pamanukan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>HANJUANG DI KUTAMAYA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun ada suatu peristiwa penting, menurut Pustaka Kertabhumi I/2 (h.70) peristiwa Harisbaya terjadi tahun 1507 saka atau 1585 M. Peristiwa ini dimulai ketika Prabu Geusan Ulun pulang berguru dari Demak dan Pajang, singgah di Keraton Panembahan Ratu penguasa Cirebon ketika Prabu Geusan Ulun sedang bertamu di Cirebon, sang Prabu bertemu dengan Ratu Harisbaya isteri kedua Panembahan Ratu yang masih muda dan cantik. Harisbaya merupakan puteri Pajang berdarah Madura yang di “berikan” oleh Arya Pangiri penguasa Mataram kepada Panembahan Ratu. Pemberian Harisbaya ke Panembahan Ratu oleh Arya Pangiri agar Panembahan Ratu bersikap netral karena setelah Hadiwijaya raja Pajang wafat terjadilah perebutan kekuasaan antara keluarga keraton Pajang yang didukung oleh Panembahan Ratu menghendaki agar yang menggantikan Hadiwijaya adalah Pangeran Banowo putra bungsunya, tetapi pihak keluarga Trenggono di Demak menghendaki Arya Pangiri putra Sunan Prawoto dan menantu Hadiwijaya sebagai penggantinya yang akhirnya Arya Pangirilah yang meneruskan kekuasaan di Pajang.</p>
<p style="text-align:justify;">Selama berguru di Demak Prabu Geusan Ulun belajar ilmu keagamaan, sedangkan di Pajang berguru kepada Hadiwijaya belajar ilmu kenegaraan dan ilmu perang, selama di Pajang inilah Prabu Geusan Ulun berjumpa dengan Harisbaya dan menjalin hubungan kekasih yang akhirnya hubungan kekasih ini terputus karena Ratu Harisbaya di paksa nikah dengan Panembahan Ratu oleh Arya Pangiri. Ada kemungkinan setelah pulang berguru dari Demak dan Pajang Prabu Geusan Ulun singgah di Cirebon untuk memberikan ucapan selamat kepada Panembahan Ratu atas pernikahannya dengan Harisbaya dan sekalian melihat mantan kekasih. Melihat mantan kekasihnya datang rasa rindu dan cintanya Harisbaya ke Geusan Ulun makin mengebu-gebu, setelah Panembahan Ratu tidur Harisbaya mengedap-edap mendatangi tajug keraton dimana Prabu Geusan Ulun beristirahat dan Harisbaya datang membujuk Geusan Ulun agar membawa dirinya ke Sumedang ketika itu Geusan Ulun bingung karena Harisbaya adalah istri pamanya sendiri sedangkan Harisbaya mengancam akan bunuh diri apabila tidak dibawa pergi ke Sumedang, setelah meminta nasehat kepada empat pengiringnya akhirnya malam itu juga Harisbawa dibawa pergi ke Sumedang. Keesokan paginya keraton Cirebon gempar karena permaisuri hilang beserta tamunya, melihat istrinya hilang Panembahan Ratu memerintahkan prajuritnya untuk mengejar tetapi prajurit bayangkara Cirebon yang mengusul Geusan Ulun rombongan dapat dipukul mundur oleh empat pengiring sang prabu. Akibat peristiwa Harisbaya tersebut terjadilah perang antara Sumedang dan Cirebon, sebelum berangkat perang Jaya Perkosa berkata kepada Prabu Geusan Ulun, ia akan menanam pohon Hanjuang di Ibukota Sumedang Larang (Kutamaya) sebagai tanda apabila ia kalah atau mati pohon hanjuang pun akan mati dan apabila ia menang atau hidup pohon hanjuang pun tetap hidup, sampai sekarang pohon hanjuang masih hidup? Setelah berkata Jaya Perkosa berangkat bertempur karena pasukan Cirebon sangat banyak maka perangpun berlangsung lama dalam perang tersebut dimenangkan oleh Jaya Perkosa, dipihak lain Nangganan, Kondang Hapa dan Terong Peot kembali ke Kutamaya sedangkan Jayaperkosa terus mengejar pasukan Cirebon yang sudah cerai berai. Di Kutamaya Prabu Geusan Ulun menunggu Jaya Perkosa dengan gelisah dan cemas, karena anjuran Nangganan yang mengira Senapati Jaya Perkosa gugur dalam medan perang agar Prabu Geusan Ulun segera mengungsi ke Dayeuh Luhur tanpa melihat dulu pohon hanjuang yang merupakan tanda hidup matinya Jaya Perkosa. Maka sejak itu Ibukota Sumedang Larang pindah dari Kutamaya ke Dayeuh Luhur. Keputusan Geusan Ulun memindahkan pusat pemerintahan ke Dayeuh Luhur sesungguhnya merupakan langkah logis dan mudah difahami. Pertama, dalam situasi gawat menghadapi kemungkinan tibanya serangan Cirebon, kedua benteng Kutamaya yang mengelilingi Ibukota belum selesai dibangun, ketiga, Dayeuh Luhur di puncak bukit merupakan benteng alam yang baik dan terdapat kabuyutan kerajaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jayaperkosa kembali ke Kutamaya dengan membawa kemenangan tetapi ia heran karena Ibukota telah kosong sedang pohon hanjuang tetap hidup akhirnya Jaya Perkosa menyusul ke Dayeuh Luhur dan setelah bertemu dengan Prabu Geusan Ulun, ia marah kepada Nangganan bahkan membunuhnya dan meninggalkan rajanya sambil bersumpah tidak akan mau mengabdi lagi kepada siapapun juga.Terdengar kabar dari Cirebon terdengar bahwa Panembahan Ratu akan menceraikan Harisbaya sebagai ganti talaknya daerah Sindangkasih. Akhirnya Prabu Geusan Ulun menikah dengan Harisbaya dan berputra dua, Raden Suriadiwangsa dan Pangeran Kusumahdinata, sedangkan dari istri pertamanya Nyi Gedeng Waru berputra Rangga Gede. Setelah Prabu Geusan Ulun wafat merupakan akhir dari nalendra kerajaan Sunda Sumedang Larang dan Sumedang memasuki masa kebupatian ketika dipimpin oleh Raden Suriadiwangsa/Rangga Gempol dan menjadi bawahan Mataram.</p>
<p style="text-align:justify;">Peristiwa penobatan Prabu Geusan Ulun sebagai Cakrawarti atau Nalendra merupakan kebebasan Sumedang untuk mengsejajarkan diri dengan kerajaan Banten dan Cirebon. Arti penting yang terkandung dalam peristiwa itu ialah pernyataan bahwa Sumedang menjadi ahli waris serta penerus yang sah dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran di Bumi Parahiyangan. Pusaka Pajajaran dan beberapa atribut kerajaan yang dibawa oleh Senapati Jaya Perkosa dari Pakuan dengan sendirinya dijadikan bukti dan alat legalisasi keberadaan Sumedang, sama halnya dengan pusaka Majapahit menjadi ciri keabsahan Demak dan Mataram.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<h3 style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;"><strong>II. Masa Kebupatian</strong></span></h3>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. RANGGA GEMPOL/PANGERAN SURIADIWANGSA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1610 Prabu Geusan Ulun wafat dan digantikan oleh putranya Pangeran Aria Soeriadiwangsa I dari Ratu Harisbaya istri kedua Geusan Ulun. Setelah wafatnya Geusan Ulun negeri-negeri bawahan Sumedang Larang dahulu, seperti Karawang, Ciasem, Pamanukan dan Indramayu dan lain-lain melepaskan diri dari Sumedang Larang sehingga wilayah kekuasaan Pangeran Aria Soeriadiwangsa I menjadi lebih kecil meliputi Parakanmuncang, Bandung dan Sukapura (Tasikmalaya). Setelah menjadi Bupati Pangeran Aria Suriadiwangsa memakai gelar Dipati Kusumadinata III dengan Ibukota pemerintahan dipindahkan dari Dayeuh Luhur ke Tegal Kalong, sedangkan putra Geusan Ulun dari Nyai Mas Gedeng Waru, Pangeran Rangga Gede diangkat menjadi bupati Sumedang dan berkedudukan di Canukur, pada masa itu Sumedang di bagi menjadi dua pemerintahan, setelah wafatnya Pangeran Aria Soeriadiwangsa di Mataram, Sumedang disatukan kembali oleh Rangga Gede dengan Ibukota di Parumasan Kecamatan Conggeang Sumedang.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada masa Pangeran Aria Soeriadiwangsa, Mataram melakukan perluasan wilayah ke segala penjuru tanah air termasuk ke Sumedang. Pada waktu itu Sumedang Larang sudah tidak mempunyai kekuatan untuk melawan yang akhirnya Pangeran Aria Soeriadiwangsa I pergi ke Mataram untuk menyatakan penyerahan Sumedang Larang menjadi bagian wilayah Mataram pada tahun 1620. Wilayah bekas Sumedang Larang diganti nama menjadi Priangan yang berasal dari kata “Prayangan” yang berarti daerah yang berasal dari pemberian dan tugas yang timbul dari hati yang ikhlas dan Pangeran Aria Soeriadiwangsa I diangkat menjadi Bupati Wadana dan diberi gelar Rangga Gempol atau Pangeran Dipati Rangga Gempol Kusumadinata. Penyerahan Sumedang ke Mataram karena Pangeran Aria Soeriadiwangsa I mengganggap Sumedang sudah lemah dari segi kemiliteran, menghindari serangan dari Mataram karena waktu itu Mataram memperluas wilayah kekuasaannya dari segi kekuatan Mataram lebih kuat daripada Sumedang dan menghindari pula serangan dari Cirebon. Sultan Agung kemudian membagi-bagi wilayah Priangan menjadi beberapa Kabupaten yang masing-masing dikepalai seorang Bupati, untuk koordinasikan para bupati diangkat seorang Bupati Wadana. Pangeran Rangga Gempol adalah Bupati Sumedang yang pertama merangkap Bupati Wadana Prayangan (1620 – 1625). Pada tahun 1614 Sultan Agung mengemukakan pengakuan atas seluruh wilayah Jawa Barat kecuali Banten dan Cirebon kepada VOC . Pada tahun 1624 Rangga Gempol diminta Sultan Agung untuk membantu menaklukan Sampang Madura. Jabatan Bupati di Sumedang sementara dipegang oleh Rangga Gede . Penaklukan Sampang oleh Rangga Gempol tidak melalui peperangan tetapi melalui jalan kekeluargaan karena Bupati Sampang masih berkerabat dengan Rangga Gempol dari garis keturunan ibunya Harisbaya, sehingga Bupati Madura menyatakan taat kepada Pangeran Rangga Gempol. Atas keberhasilnya Rangga Gempol tidak diperkenankan kembali ke Sumedang oleh Sultan Agung, sampai sekarang ada kampung bernama Kasumedangan yang dahulunya merupakan tempat menetap para bekas prajurit Rangga Gempol dari Sumedang. Sejak Rangga Gempol menetap di Mataram, pemerintahan di Sumedang dipegang oleh Pangeran Rangga Gede (1625 – 1633). Pangeran Rangga Gempol wafat di Mataram dimakamkan di Lempuyanganwangi. Pangeran Dipati Rangga Gempol Kusumadinata meninggalkan 5 putera – putri, salah satunya anak pertama Raden Kartajiwa / Raden Soeriadiwangsa II menuntut haknya sebagai putra mahkota akan tetapi Rangga Gede menolaknya sehingga Raden Soeriadiwangsa II meminta bantuan kepada Sultan Banten untuk merebut kabupatian Sumedang dari Pangeran Rangga Gede, meskipun Banten memenuhi permintaan Raden Suriadiwangsa tetapi serangan langsung tentara Banten ke Sumedang pada masa Pangeran Panembahan (1656 – 1706). Pada tahun 1641 wilayah Sumedang Larang meliputi Pamanukan, Ciasem, Karawang, Sukapura, Limbangan, Bandung dan Cianjur dibagi menjadi empat Kabupaten yaitu Sumedang, Sukapura, Parakanmuncang dan Bandung dan pada tahun 1645 dibagi lagi menjadi 12 ajeg (setaraf Kabupaten) yaitu Sumedang, Parakanmuncang, Bandung, Sukapura, Karawang, Imbanagara, Wirabaya, Kawasen, Sekace, Banyumas, Ayah dan Banjar. Pada tahun 1656 jabatan Bupati Wadana dihapuskan dan setiap bupati langsung dibawah Mataram. Sejak wafatnya Rangga Gede digantikan oleh puteranya Raden Bagus Weruh /Rangga Gempol II (1633 – 1656) menjadi Bupati Sumedang sedangkan jabatan Bupati Wadana dipegang oleh Dipati Ukur / Raden Wangsanata Bupati Purbalingga dengan tempat pemerintahan di Bandung. Jabatan Bupati Wadana diberikan ke Dipati Ukur dari Rangga Gede karena Rangga Gede dianggap tidak mampu menjaga wilayah Mataram dari tentara Banten memasuki daerah yang dikuasai Mataram yaitu Pamanukan dan Ciasem (peristiwa Raden Suriadiwangsa II).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. PANGERAN RANGGA GEDE</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti di cerita diatas, sejak Pangeran Rangga Gempol III pergi ke Mataram, pemerintahan di Sumedang dipegang oleh saudaranya Pangeran Rangga Gede / Kusumahdinata IV (1625 – 1633).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. PANGERAN RANGGA GEMPOL II</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah wafatnya Rangga Gede digantikan oleh putranya Raden Bagus Weruh setelah menjadi bupati memakai nama Pangeran Rangga Gempol II / Kusumahdinata V (1633 – 1656), Pangeran Rangga Gempol II tidak diangkat menjadi Bupati Wadana tetapi hanya Dipati Sumedang saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Bupati Wadana, sejak Amangkurat I menjadi Sultan Mataram tidak ada lagi, dengan demikian Rangga Gempol II hanya menjadi Bupati Sumedang. Pada tahun 1655 pembagian kabupatian – kabupatian bukanlah pada wilayah kabupatian tetapi cacahnya. Demikian pula batas kekuasaan bukan batas teritorial tetapi batas sosial, tiap kabupaten mendapat + 300 umpi. Sumedang dengan cacah satu perempat dari cacah Sumedang pada masa Rangga Gede. Setelah Rangga Gempol II wafat digantikan oleh putra Pangeran Panembahan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. PANGERAN PANEMBAHAN / RANGGA GEMPOL III</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pangeran Rangga Gempol III (1656 – 1706) adalah bupati yang cerdas, lincah, loyal, berani dan perkasa. Pada masa pemerintahannya penuh dengan perjuangan dan patriotisme beringinan mengembalikan kejayaan masa Sumedang Larang. Pangeran Rangga Gempol III / Kusumahdinata VI dikenal juga sebagai Pangeran Panembahan, gelar Panembahan diberikan oleh Susuhunan Amangkurat I Mataram karena atas bakti dan kesetiaannya kepada Mataram. Kekuatan dan kekuasaan Pangeran Panembahan adalah paling besar di seluruh daerah yang dikuasai oleh Mataram di Jawa Barat berdasarkan pretensi Mataram tahun 1614. Pada masa Pangeran Panembahan pula di Sumedang dibuka areal persawahan sehingga waktu itu kebutuhan pangan rakyat tercukupi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1614 Mataram mengemukakan pretensi (pengakuan) bawah seluruh Jawa Barat kecuali Banten dan Cirebon dibawah kekuasaan Sultan Agung. Berdasarkan pretensi inilah Mataram menganggap Batavia sebagai perebutan wilayah Mataram. Pangeran Panembahan adalah bupati pertama yang berani menentang dan mampu memperalat kompeni VOC. Pangeran Panembahan berani menentang dan melepaskan diri dari Mataram dan berani dan mampu menghadapi Banten.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah wafatnya Sultan Agung Mataram (1645) digantikan oleh puteranya Susuhunan Amangkurat I (1645 – 1677). Pada tahun 1652 Mataram mengadakan kontrak dengan VOC secara lisan, VOC diberi hak pakai secara penuh oleh Mataram atas daerah sebelah barat Sungai Citarum dengan demikian Sumedang tidak termasuk daerah yang diserahkan kepada kompeni oleh Mataram yang waktu itu Sumedang dibawah pemerintahan Raden Bagus Weruh / Rangga Gempol II, atas perjanjian tersebut VOC tidak puas maka pada tahun 1677 VOC kembali mengadakan perjanjian secara tertulis, perjanjian tersebut disaksikan oleh Pangeran Panembahan. Salah satu butir dalam perjanjian tersebut bahwa batas sebelah barat antara Cisadane dan Cipunagara harus diserahkan mutlak oleh Mataram kepada VOC dan menjadi milik penuh VOC, kemudian dari hulu Cipunagara ditarik garis tegak lurus sampai pantai selatan dan laut Hindia. Permintaan VOC tersebut oleh Susuhunan Amangkurat I ditolak dan Susuhunan Amangkurat I mengatakan bahwa daerah antara Citarum dan Cipunagara bahwa daerah tersebut merupakan kekuasaan kebupatian Sumedang yang dipimpin oleh Pangeran Panembahan bukan daerah kekuasaan Mataram. Daerah antara Citarum dan Cipunagara merupakan bekas daerah kekuasaan Sumedang Larang ketika dipimpin oleh Prabu Geusan Ulun. Penolakan tersebut diterima dengan baik oleh VOC, sedangkan butir perjanjian lain disetujui oleh Mataram. Dengan demikian VOC menyetujui perjanjian tersebut dengan catatan daerah yang diserahkan pada tahun 1652 menjadi milik VOC.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 261px"><img title="Makam Pangeran Rangga Gempol III / Pangeran Panembahan di Gunung Puyuh Kecamatan Sumedang Selatan." src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQl7m6q-wtB03d-PfOllWwM4Ah1ZR5LXX6GONH_O4YVDpZECyX_" alt="Makam Pangeran Rangga Gempol III / Pangeran Panembahan di Gunung Puyuh Kecamatan Sumedang Selatan." width="251" height="201" /><p class="wp-caption-text">Makam Pangeran Rangga Gempol III / Pangeran Panembahan di Gunung Puyuh Kecamatan Sumedang Selatan.</p></div>
<p style="text-align:justify;">Cita – cita Pangeran Panembahan untuk menguasai kembali bekas wilayah kerajaan Sumedang Larang bukan perkara yang mudah karena beberapa daerah sudah merupakan wilayah dari Banten, Cirebon, Mataram dan VOC. Sebagai sasaran penaklukan kembali adalah pantai utara Jawa seperti Karawang, Ciasem, Pamanukan dan Indramayu yang merupakan kekuasaan dari Mataram. Pangeran Panembahan meminta bantuan kepada Banten karena waktu itu Banten sedang konflik dengan Mataram tetapi setelah dipertimbangkan langkah tersebut kurang bijaksana karena masalah Raden Suriadiwangsa II, sedangkan permohonan bantuan Pangeran Panembahan tersebut diterima dengan baik oleh Banten dan mengajak Sumedang untuk berpihak kepada Banten dalam menghadapi VOC dan Mataram. Ajakan dari Banten tersebut ditolak oleh Pangeran Panembahan dan menyadari sepenuhnya Sultan Agung akan menyerang Sumedang, yang akhirnya Banten menyerang Sumedang. Oleh karena itu Pangeran Panembahan mengirim surat kepada VOC pada tanggal 25 Oktober 1677 yang isinya memohon kepada VOC menutup muara sungai Cipamanukan dan pantai utara untuk mencegat pasukan Banten sedangkan penjagaan di darat ditangani oleh Sumedang. Sebagai imbalan VOC diberi daerah antara Batavia dan Indramayu, sebenarnya daerah tersebut sudah diberikan oleh Mataram kepada VOC berdasarkan kontrak tahun 1677 kenyataannya Sumedang tidak memberikan apa-apa kepada VOC . Sebenarnya dalam perjanjian kontrak antara Mataram dengan VOC pada 25 Februari 1677 dan 20 Oktober 1677 yang diuntungkan adalah Sumedang karena secara tidak langsung VOC akan menempatkan pasukan untuk menjaga wilayahnya dan akan menghambat pasukan Banten untuk menyerang Sumedang sehingga Pangeran Panembahan dapat memperkuat kedudukan dan pertahanannya di Sumedang. Meskipun demikian VOC bersedia membantu Sumedang dan Kecerdikan Pangeran Panembahan tidak disadari oleh VOC dan VOC menganggap Sumedang sebagai kerajaan yang berdaulat dan merdeka. Pangeran Panembahan juga mengadakan hubungan dengan Kepala Batulajang (sebelah selatan Cianjur) Rangga Gajah Palembang merupakan cucu Dipati Ukur.</p>
<p style="text-align:justify;">Serangan pertama Sumedang di pantai utara adalah daerah Ciasem, Pamanukan dan Ciparagi dengan mudah dikuasai oleh Pangeran Panembahan. Di Ciparigi Sumedang menempatkan pasukannya sebagai persiapan menyerang Karawang. Setelah daerah-daerah tersebut dikuasai oleh Pangeran Panembahan, pasukan Sumedang bersiap untuk menaklukan Indramayu tetapi Indramayu tidak diserang karena keburu mengakui Pangeran Panembahan sebagai pimpinannya. Dengan demikian daerah pantai utara Jawa antara Batavia dan Indramayu merupakan kekuasaan mutlak Sumedang. Ketika Pangeran Panembahan sibuk menaklukan pantai utara, Sultan Banten bersiap untuk menyerang Sumedang.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 10 Maret 1678 pasukan Banten bergerak untuk menyerang Sumedang melalui Muaraberes/Bogor, Tangerang ke Patimun Tanjungpura dan berhasil melalui penjagaan VOC, awal Oktober pasukan Banten telah datang di Sumedang tetapi pasukan Banten tidak bisa masuk ke Ibukota karena Pangeran Panembahan bertahan dengan gigih. Pada serangan pertama ini Banten mengalami kegagalan karena tepat waktu Ibukota Sumedang diserang, di Banten terjadi perselisihan antara Sultan Agung Tirtayasa dan Sultan Haji Surasowan. Selama sebulan lamanya tentara Banten yang dipimpin oleh Raden Senapati bertempur dan Raden Senapati tewas dalam pertempuran tersebut sehingga pasukan Banten ditarik mundur karena Sultan Agung memerlukan pasukan untuk menghadapi puteranya Sultan Haji. Pangeran Panembahan akhirnya menguasai seluruh daerah pantai utara dan Pangeran Panembahan berkata kepada VOC akan taat dan patuh asalkan terus membantunya terutama pengiriman senjata dan mesiu tetapi Pangeran Panembahan tidak taat bahkan menentang kompeni VOC dan tidak pernah datang ke Batavia dan tidak pernah pula memberi penghormatan atau upeti kepada VOC, yang akhirnya VOC menarik pasukannya dari pantai utara.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah menguasai pantai utara Pangeran Panembahan menguasai daerah kebupatian yang dibentuk oleh Mataram pada tahun 1641 seperti Bandung, Parakan muncang, dan Sukapura. Dengan demikian Pangeran Panembahan menguasai kembali seluruh daerah bekas Sumedang Larang kecuali antara Cisadane dan Cipunagara yang telah diserahkan oleh Mataram kepada VOC tahun 1677. Sehingga Sumedang mencapai puncak kejayaannya kembali setelah pada masa Prabu Geusan Ulun. Penarikan pasukan VOC dari pantai utara membuka peluang bagi Banten dengan mudah untuk masuk wilayah Sumedang. Dalam melakukan penaklukan daerah-daerah di pantai utara dan menghadapi Banten, Pangeran Panembahan dilakukan sendiri berserta pasukan Sumedang tanpa ada bantuan dari VOC sama sekali, bantuan VOC hanya menjaga batas luar wilayah Sumedang dan selama menjaga VOC tidak pernah terlibat perang secara langsung di wilayah kekuasaan Pangeran Panembahan, bantuan lain dari VOC berupa pengiriman beberapa pucuk senjata dan meriam setelah Sumedang pertama kalinya diserang oleh Banten.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada awal oktober 1678 pasukan Banten kedua kalinya kembali menyerang Sumedang, serangan pertama pasukan Banten merebut kembali daerah-daerah yang dikuasai oleh Sumedang di pantai utara, Ciparigi, Ciasem dan Pamanukan akhirnya jatuh ke tangan pasukan Banten sedangkan pasukan kompeni yang dahulu menjaga daerah tersebut telah ditarik . Akhirnya pasukan Bali dan Bugis bergabung dengan pasukan Banten bersiap untuk menyerang Sumedang. Pada awal bulan puasa pasukan gabungan tersebut telah mengepung Sumedang, pada tanggal 18 Oktober 1678 hari Jumat pasukan Banten di bawah pimpinan Cilikwidara dan Cakrayuda menyerang Sumedang tepat Hari Raya Idul Fitri dimana ketika Pangeran Panembahan beserta rakyat Sumedang sedang melakukan Sholat Ied di Mesjid Tegalkalong, serangan pasukan Banten ini tidak diduga oleh Pangeran Panembahan karena bertepatan dengan Hari Raya dimana ketika Pangeran Panembahan dan rakyat Sumedang sedang beribadah kepada Allah. Akibat serangan ini banyak anggota kerabat Pangeran Panembahan yang tewas termasuk juga rakyat Sumedang. Pangeran Panembahan sendiri berhasil meloloskan diri ke Indramayu dan tiba pada bulan Oktober 1678. Serangan pasukan Banten ini dianggap pengecut oleh rakyat Sumedang karena pada serangan pertama Banten, Sumedang sanggup memukul mundur dan mengalahkan Banten. Oleh Sultan Banten, Cilikwidara diangkat menjadi wali pemerintahan dengan gelar Sacadiparana sedangkan yang menjadi patihnya adalah Tumenggung Wiraangun-angun dengan gelar Aria Sacadiraja.</p>
<p style="text-align:justify;">Selama di Indramayu Pangeran Panembahan menggalang kekuatan kembali dengan bantuan dari Galunggung, pasukan Pangeran Panembahan dapat merebut kembali Sumedang setelah enam bulan berada di Sumedang, pada bulan Mei 1679 Cilikwidara menyerang kembali dengan pasukan lebih besar, yang akhirnya Sumedang jatuh kembali ke tangan Cilikwidara, Pangeran Panembahan terpaksa mundur kembali ke Indramayu. Pendudukan Sumedang oleh Cilikwidara tak berlangsung lama pada bulan Agustus 1680 pasukan Cilikwidara ditarik kembali ke Banten karena terjadi konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan Sultan Haji yang didukung oleh VOC, dalam konflik tersebut dimenangkan Sultan Haji. Sejak itu kejayaan Sultan Banten berakhir. Sultan Haji berkata kepada VOC bahwa Banten tidak akan mengganggu lagi Cirebon dan Sumedang, yang pada akhirnya berakhirlah kekuasaan Banten di Sumedang. Pada tanggal 27 Januari 1681 Pangeran Panembahan kembali ke Sumedang dan bulan Mei 1681 memindahkan pemerintahan dari Tegalkalong ke Regolwetan (Sumedang sekarang) dan membangun gedung kebupatian yang baru Srimanganti sekarang dipakai sebagai Museum Prabu Geusan Ulun Yayasan Pangeran Sumedang, pembangunan Ibukota Sumedang yang baru tidak dapat disaksikan oleh Pangeran Panembahan, pada tahun 1706 Pangeran Panembahan wafat dan dimakamkan di Gunung Puyuh di samping makam ayahnya Pangeran Rangga Gempol II. Pada tahun 1705 seluruh wilayah Jawa Barat dibawah kekuasaan kompeni VOC Setelah wafatnya Pangeran Panembahan digantikan oleh putranya Raden Tanumaja dengan gelar Adipati, bupati pertama kali yang diangkat oleh VOC. Pangeran Rangga Gempol III Panembahan merupakan bupati paling lama masa pemerintahannya hampir 50 tahun dari tahun 1656 sampai tahun 1705 dibandingkan dengan bupati – bupati Sumedang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah peristiwa penyerbuan pasukan Banten ke Sumedang, Pangeran Panembahan membentuk sistem keamanan lingkungan yang disebut Pamuk terdiri dari 40 orang pilihan, setiap pamuk mendapatkan sawah dari Pangeran Panembahan, sawah tersebut boleh digarap dan diterima hasilnya oleh pamuk yang bersangkutan selama ia masih bekerja sebagai pamuk. Sawah tersebut dinamakan Carik, suatu sistem gaji yang bekerja untuk kebupatian. Carik disebut juga Bengkok di daerah lain yang akhirnya sistem pemberian gaji ini untuk Pamong Desa.</p>
<p style="text-align:justify;">Pangeran Rangga Gempol III Panembahan menyisihkan sebagaian tanahnya miliknya sebagai sumber penghasilan bupati, agar penghasilan bupati tidak lagi menjadi beban rakyat. Tanah tersebut tidak boleh dibagi waris jika Pangeran Panembahan wafat tetapi diturunkan lagi kepada bupati berikutnya secara utuh dan lengkap.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5. TUMENGGUNG TANUMADJA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pengganti Pangeran Panembahan adalah putranya Raden Tanumadja (1706 – 1709), Raden Tanumadja adalah bupati pertama yang diangkat oleh kompeni. Pengangkatannya pun disertai syarat, yaitu harus menempuh masa percobaan, kesetiaan dan ketaatan Raden Tanumadja terhadap pemerintah kompeni dan Raden Tanumadja dibawah Pangeran Aria Cirebon sebagai atasannya karena Pangeran Aria Cirebon diangkat menjadi Gubernur di Priangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti di ceritakan di atas pada tahun 1681 Ibukota Sumedang dipindahkan dari Tegal Kalong ke Regolwetan oleh Pangeran Panembahan. Dalam membangun Ibukota sumedang yang baru Pangeran Panembahan tidak sempat menyaksikan karena keburu wafat maka pembangunan dilanjutkan oleh Putranya Raden Tanumadja, pada masa Pangeran Panembahan membangun gedung kabupatian baru bernama Srimanganti yang selanjutnya pembangunan gedung Srimanganti diselesaikan oleh Raden Tanumadja.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6. PANGERAN KARUHUN</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Setelah Tumenggung Tanumadja wafat, putranya menggantikannya Raden Kusumahdinata VII (1709 – 1744) diangkat menjadi bupati. Raden Kusumadinata memohon memakai gelar Rangga Gempol IV seperti kakeknya. Pangeran Kusumadinata VII juga memusuhi Pangeran Aria Cirebon karena Kusumadinata tidak ingin dibawah perintahnya. Sebelum wafat Pangeran Kusumadinata menginginkan kabupatian-kabupatian di laut Jawa dan Hindia di bawah kekuasaannya tetapi sebelum keinginannya tercapai keburu wafat, setelah wafat dikenal sebagai Pangeran Karuhun. Pangeran Kusumadinata terkenal sebagai bupati yang memajukan persawahan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7. DALEM ISTRI RADJANINGRAT</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Menggantikan Pangeran Karuhun adalah puteri sulungnya Dalem Istri Radjaningrat (1744 – 1759) karena para putera Pangeran Karuhun belum ada yang dewasa. Dalem Istri Radjaningrat menikah dengan Dalem Soerianegara putera Bupati Limbangan. Dalem Istri Radjaningrat mempunyai putera sulung Raden Kusumadinata yang biasa disebut Dalem Anom yang kelak menjadi bupati menggantikan kakeknya. Para putera Pangeran Karuhun oleh kompeni dipandang tidak cukup cakap untuk menjadi bupati.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>8. ADIPATI KUSUMADINATA/DALEM ANOM</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Raden Kusumadinata VIII (1759 – 1761) diangkat menjadi bupati tetapi tidak lama hanya dua tahun karena keburu wafat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>9. ADIPATI SURIANAGARA</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Adipati Kusumadinata wafat maka digantikan oleh saudaranya Raden Surianagara setelah menjadi bupati bergelar Adipati Surianagara (1761 – 1765). Adipati Surianagara mempunyai seorang putra bernama Raden Kusumadinata/Djamu setelah menjadi bupati dikenal sebagai Pangeran Kornel.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>10. ADIPATI SURIALAGA</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Setelah Adipati Surianagara wafat tidak digantikan oleh puteranya Raden Djamu karena masih anak-anak maka digantikan oleh saudaranya Raden Surialaga (1765 – 1773) yang bergelar Adipati Kusumadinata. Wafatnya Raden Surialaga meninggalkan 6 orang putera dan puteri,putra sulungnya Raden Ema ketika itu masih berusia 9 tahun. Maka timbullah masalah mengenai penggantian bupati, putera Raden Surianagara yaitu Raden Djamu ketika itu belum dewasa baru berusia 11 tahun. Oleh karena itu kompeni mengangkat Raden Adipati Tanubaya Bupati Parakanmuncang menjadi bupati Sumedang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak itu Sumedang memasuki masa bupati penyelang selama tiga periode, sampai akhirnya kelak Raden Djamu menjadi bupati.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>12. ADIPATI TANUBAYA (Bupati Penyelang)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Pengangkatan Adipati Tanubaya (1773 – 1775) dari Parakanmuncang menjadi bupati Sumedang karena memungkinkan, memang keadaan tidak mungkin mengangkat bupati dari keturunan Sumedang dikarenakan pengganti dari Sumedang belum menginjak dewasa.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>13. TUMENGGUNG PATRAKUSUMA (Bupati Penyelang)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Pengganti Adipati Tanubaya adalah menantunya Tumenggung Patrakusuma (1775 – 1789) yang waktu itu menjabat sebagai Bupati Parakanmuncang, pengangkatan Tumenggung mendapat dukungan dari 4 umbul terutama di Sumedang dan setelah mendapat dukungan Patrakusuma berhenti menjadi Bupati Parakanmuncang. Mengenai cerita Raden Djamu menikah dengan putri Tumenggung Patrakusuma di cerita di bab Pangeran Kornel selanjutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada masa pemerintahannya Tumenggung Patrakusuma melakukan pelanggaran maka ia diberhentikan oleh kompeni dari kedudukan Bupati Sumedang kemudian diasingkan ke Batavia.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>14. ARIA SATJAPATI</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Sebagai pengganti Patrakusuma maka diangkat Raden Satjapati (1789 – 1791) yang waktu itu menjabat sebagai patih Sumedang, setelah diangkat menjadi bupati memakai gelar Adipati. Posisi Satjapati menjadi bupati tidak berlangsung lama karena oleh kompeni dianggap kurang cakap maka diturunkan pangkatnya menjadi patih kembali.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mengisi kekosongan bupati, Satjapati mengirim surat ke Bupati Cianjur Wiratanudatar IV memohon agar Raden Surianagara / Djamu waktu itu menjabat sebagai Wadana Cikalong diusulkan untuk menjadi Bupati Sumedang, yang akhirnya usul tersebut di terima oleh kompeni dan Raden Surianagara/Raden Djamu diangkat menjadi Bupati Sumedang.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>15. PANGERAN KORNEL /ADIPATI SURIANAGARA III</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah wafatnya Bupati Sumedang Adipati Surianagara II (1765 – 1773), posisi bupati Sumedang diisi oleh bupati penyelang dari Parakanmuncang Adipati Tanubaya (1773 – 1775) yang diangkat oleh kompeni karena putra Adipati Surianagara II, Raden Jamu masih kecil. Setelah wafatnya Adipati Tanubaya digantikan oleh Tumenggung Patrakusuma putranya Setelah menjadi bupati Tumenggung Patrakusuma (1775 – 1789) memakai gelar Adipati Tanubaya II. Setelah menginjak dewasa Raden Djamu dinikahkan dengan putri Adipati Tanubaya II Nyi Raden Radja Mira mempunyai seorang puteri bernama Nyi Raden Kasomi. Adipati Tanubaya II mendapat hasutan dari Demang Dongkol yang berambisi untuk mempunyai anak atau cucu menjadi bupati. Akhirnya Raden Djamu mengetahui niat buruk mertuanya ingin membunuhnya, segera Raden Djamu meloloskan diri ke Limbangan karena bupati Limbangan merupakan saudaranya, di limbangan posisi Raden Djamu tidak aman terus melanjutkan perjalanan ke Cianjur untuk bertemu dengan kerabat ayahnya Bupati Cianjur Adipati Aria Wiratanudatar IV dan Raden Djamu diangkat sebagai Kepala Cutak (Wedana) Cikalong dengan nama Raden Surianagara III. Setelah Adipati Tanubaya II diasingkan ke Batavia oleh kompeni ditunjuk sebagai pengganti sementara kepala pemerintahan Sumedang dipegang oleh Patih Sumedang Aria Satjapati (1789 – 1791). Aria Satjapati mengirim surat kepada Adipati Aria Wiratanudatar IV memohon agar mengusulkan Raden Djamu atau Surianagara III diangkat menjadi bupati Sumedang kepada kompeni. Usul dari Wiratanudatar IV diterima oleh kompeni dan diangkatlah Raden Djamu / Surianagara III menjadi bupati Sumedang dengan gelar Pangeran Kusumadinata IX (1791 – 1828).</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1811 masa pemerintahan Gubernur Jenderal William Daendels, merintahkan semua bupati di tanah Jawa untuk membantu pembangunan jalan pos antara Anyer dan Banyuwangi. Di Sumedang jalan pos tersebut harus melalui gunung cadas yang keras. Pangeran Kusumadinata menghadapi pekerjaan yang berat mau tidak mau harus dilaksanakan oleh rakyatnya dan tanggung jawabnya sebagai bupati, setelah mengumpulkan rakyatnya Pangeran Kusumadinata menganjurkan dan mengajak rakyatnya untuk membantu pelaksanaan pembuatan jalan pos tersebut, rakyat Sumedang menyatakan kesanggupannya melaksanakan tugas itu.. Pada tanggal 26 November 1811 mulailah pembobokan gunung cadas, rakyat Sumedang pun menjadi korban “kerja paksa” Belanda, banyak rakyat menjadi korban akibat sulitnya medan jalan yang dibuat, rakyat dipaksa untuk menembus bukit cadas dengan peralatan seadanya. Pembangunan jalan pun tidak selesai pada waktunya. Daendels meminta bupati agar rakyat dikerahkan habis-habisan untuk menyelesaikan, Pangeran Kusumadinata menolak karena tidak tega melihat rakyatnya menderita.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Daendels memeriksa pembuatan jalan tersebut, Pangeran Kusumadinata menunggunya. Sewaktu Daendels menyodorkan tangan kanannya untuk mengajak bersalam, Pangeran Kusumadinta menyambutnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan memegang keris Nagasastra siap menghadapi segala kemungkinan, semula Daendels marah karena sikap bupati dianggap kurang ajar. Akan tetapi setelah mendengar penjelasan dari Pangeran Kusumadinata bahwa ia berani membantah perintahnya (simbolis ditunjukan dengan menyalami memakai tangan kiri) demi membela rakyatnya yang menjadi korban kerja paksa Daendels dan Daendels pun salut atas keberanian Pangeran Kusumadinata. Akhirnya Daendels merintahkan pasukan zeni Belanda untuk membantu menyelesaikan pembuatan jalan dengan mengunakan dinamit membobok gunung cadas, akhirnya 12 Maret 1812 pembangunan jalan pos di Sumedang selesai, sehingga daerah itu disebut “Cadas Pangeran”.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal G.A. Baron Van Der Capllen (1826 – 1830) Pangeran Kusumadinata mendapat pangkat militer sebagai Kolonel dari pemerintah Belanda atas jasanya mengamankan daerah perbatasan dengan Cirebon dan menumpas para perampok dan pemberontak terutama yang mencoba masuk ke Sumedang dari Cirebon., sebutan kolonel dalam lidah rakyat berubah menjadi “Kornel” sehingga terkenal sebagai Pangeran Kornel.</p>
<p style="text-align:justify;">Wilayah Sumedang waktu itu hampir sama dengan wilayah pada masa Rangga Gempol III, wilayah Sumedang berbatasan dengan Parakanmuncang, Limbangan, Sukapura, Talaga dan kabupatian – kabupatian Cirebon, kemudian menyusuri kali Cipunagara sampai laut Jawa sepanjang pantai utara sampai Pamanukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain keberaniannya menentang perintah Daendels dan pemerintah Kerajaan Belanda / Inggris, Pangeran Kusumadinata adalah bupati yang jujur, berani, cerdas, paling pandai dan paling aktif dari semua para bupati di Priangan. Keadilan, kejujuran, kecerdasan, keberanian, kebijaksanaan dan kegagahan Pangeran Kornel dalam melaksanakan kewajibannya penuh rasa tanggung jawab dan mengabdi kepada rakyat sepenuh jiwa raganya. Ia pun tempat meminta nasehat bupati lainnya. Pangeran Kusumadinata sewaktu mulai menjabat bupati membuka lahan hutan menjadi areal perkebunan kopi yang subur dan berhasil, sehingga keadaan Sumedang lebih baik dibandingkan masa bupati-bupati sebelumnya (penyelang). Residen Priangan Van Motman menyatakan Pangeran Kusumadinata adalah bupati pangkatnya paling tinggi antara para bupati di Priangan. Atas jasa dan kesetiaannya pemerintahan Belanda memberi bintang jasa dari mas.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>16. ADIPATI KUSUMAYUDA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pangeran Kornel digantikan oleh puteranya Adipati Kusumayuda (1828 – 1833). Adipati Kusumayuda menuruni watak ayahnya Pangeran Kornel, bupati sering turut bertempur berserta saudaranya Adipati Adiwijaya melawan para pengacau atau perampok di Sumedang . Perawakan Adipati Kusumayuda yang tinggi besar oleh karena itu disebut pula sebagai Dalem Ageung.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>17. ADIPATI KUSUMADINATA / DALEM ALIT</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Wafatnya Adipati Kusumayuda tidak digantikan oleh puteranya Raden Somanagara karena menunggu dewasa. Maka putera Adipati Adiwijaya, Adipati Kusumadinata X (1833 – 1834) menggantikannya tetapi tidak berlangsung lama karena keburu wafat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>18. TUMENGGUNG SURIALAGA</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Sebagai penggantinya sementara diangkat Tumenggung Surialaga (1834 – 1836) ketika itu menjadi Patih Polisi tetapi tidak berlangsung lama juga baru satu tahun menjabat bupati meminta pensiun.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>19. PANGERAN ARIA SURIA KUSUMAH ADINATA</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Pada tangggaraal 20 Januari 1836 Raden Somanagara dilantik menjadi Bupati Sumedang dengan gelar Tumenggung Suria Kusumah Adinata (1836 – 1882).</p>
<p style="text-align:justify;">Kecerdasan, kepemimpinan dan kesetiaannya pengabdian kepada rakyat terlihat dengan jelas. Kebutuhan masyarakat diutamakan seperti pembuat jalan, pengairan, pertanian dan sebagainya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Segala bentuk kewajiban rakyat yang memberatkan di bidang pertanian dihapuskan pada 1885 oleh pemerintah seperti peraturan penanaman nila.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 266px"><img title="Komplek Pemakaman Gunung Puyuh Tempo Dulu" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTX6PBpGSCSDU3lTmmSdftpkdPWisqd8fYY4aBUekPPS_98ZGAHDw" alt="Komplek Pemakaman Gunung Puyuh Tempo Dulu" width="256" height="160" /><p class="wp-caption-text">Komplek Pemakaman Gunung Puyuh Tempo Dulu</p></div>
<p style="text-align:justify;">Pada tanggal 14 Agustus 1841 Surat Keputusan pemerintah Kerajaan Belanda no. 24 Tumenggung Suria Kusumah Adinata mendapat gelar Adipati dan berdasarkan Surat Keputusan tanggal 31 Oktober 1850 mendapat gelar Pangeran. Pangeran Aria Suria Kusumah Adinata wafat pada tanggal 22 September 1882 dimakamkan di Gunung Puyuh, Pangeran Aria Suria Kusumah Adinata dikenal juga sebagai Pangeran Sugih karena sugih harta, kekayaan dan putera.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>20. PANGERAN ARIA SURIA ATMADJA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah Pangeran Suria Kusumah Adinata wafat digantikan oleh putranya Raden Sadeli dilahirkan di Sumedang tanggal 11 Januari 1851 . Sebelum menjadi bupati Sumedang Raden Sadeli menjadi Patih Afdeling Sukapura – kolot di Mangunreja. Pada tanggal 31 Januari 1883 diangkat menjadi bupati memakai gelar Pangeran Aria Suria Atmadja (1883 – 1919). Pangeran Aria Suria Atmadja merupakan pemimpin yang adil, bijaksana, saleh dan taqwa kepada Allah. Raut mukanya tenang dan agung, memiliki displin pribadi yang tinggi dan ketat.</p>
<p style="text-align:justify;">Wibawa Pangeran Aria Suria Atmadja sangat besar yang memancar dari 4 macam sumber :</p>
<ul>
<li>Kedudukannya sebagai bupati.</li>
<li>Patuh dan taqwa dalam agama.</li>
<li>Kepemimpinannya yang tinggi.</li>
<li>Displin yang tinggi.</li>
</ul>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 346px"><img title="Pangeran Aria Suria Atmadja ketika mendapat penghargaan bintang jasa." src="http://img831.imageshack.us/img831/6728/pangeransoeriaatmadja.jpg" alt="Pangeran Aria Suria Atmadja ketika mendapat penghargaan bintang jasa." width="336" height="479" /><p class="wp-caption-text">Pangeran Aria Suria Atmadja ketika mendapat penghargaan bintang jasa.</p></div>
<p style="text-align:justify;">Pangeran Aria Suria Atmadja memiliki jasa dalam pembangunan Sumedang di beberapa bidang, antara lain :</p>
<p style="text-align:justify;">1. Bidang Pertanian</p>
<p style="text-align:justify;">Membangun aliran irigasi di sawah-sawah, penanaman sayuran, melakukan penghijauan di tanah gundul dan membangun lumbung desa. Pangeran Aria Suria Atmadja memberi ide bagaimana meningkatkan daya guna dan hasil guna pengolahan tanah, pembuatan sistem tangga (Terasering) pada bukit-bukit.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Bidang Peternakan</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk meningkatkan hasil ternak yang baik di Sumedang, di datangkan sapi dari Madura dan Benggala dan kuda dari Sumba atau Sumbawa untuk memperoleh bibit unggul.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Bidang Perikanan</p>
<p style="text-align:justify;">Pelestarian ikan di sungai diperhatikan dengan khusus, jenis jala ikan ditentukan ukurannya dan waktu penangkapannya agar ikan di sungai selalu ada. Penangkapan ikan dengan racun atau peledak di larang.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Bidang Kehutanan</p>
<p style="text-align:justify;">Daerah-daerah gunung yang gundul ditanami pohon-pohon agar tidak longsor., selain dibuat hutan larangan / tertutup yaitu hutan yang tidak boleh diganggu oleh masyarakat demi kelestarian tanaman dan binatangnya. Binatang dan pohon langka mendapat pelindungan khusus.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Bidang Kesehatan</p>
<p style="text-align:justify;">Penjagaan dan pemberantasan penyakit menular mendapat perhatian besar. Bayi dan anak-anak diwajibkan mendapatkan suntikan anti cacar diadakan sampai ke desa-desa. Masyarakat dianjurkan menanam tanaman obat-obatan di perkarangan rumahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">6. Bidang Pendidikan</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1914 mendirikan Sekolah Pertanian di Tanjungsari dan wajib belajar diterapkan pertama kalinya di Sumedang. Pada tahun 1915 di Kota Sumedang telah ada Hollandsch Inlandsche School , mendirikan sekolah rakyat di berbagai tempat Sumedang dan membangun kantor telepon.</p>
<p style="text-align:justify;">7. Bidang Perekonomian</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1901 membangun “Bank Prijaji” dan pada tahun 1910 menjadi “Soemedangsche Afdeeling Bank”. Pada tahun 1915 mendirikan Bank Desa untuk menolong rakyat desa.</p>
<p style="text-align:justify;">8. Bidang Politik</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1916 mengusulkan kepada pemerintah kolonial agar rakyat diberi pelajaran bela negara / mempergunakan senjata agar dapat membantu pertahanan nasional. Ide ini dituangkan dalam buku ‘Indie Weerbaar”/Ketahanan Indonesia, tapi usul ini ditolak pemerintah Belanda. Pangeran Aria Suria Atmadja tidak mengurangi cita-citanya, disusunlah sebuah buku yang berjudul ‘ Ditiung Memeh Hujan” dalam buku itu dikemukakan lebih jauh lagi agar Belanda kelak perlu mempertimbangkan dan mengusahakan kemerdekaan bagi rakyat Indonesia. Pemerintah kerajaan Belanda memberi reaksi hingga dibuat benteng di kota Sumedang, benteng gunung kunci dan Palasari.</p>
<p style="text-align:justify;">9. Bidang Keagamaan</p>
<p style="text-align:justify;">Bidang keagamaan mendapat perhatian yang besar dari Pangeran Aria Suria Atmadja. Mesjid dan pesantren mendapat bantuan penuh, peningkatan pendidikan agama mulai dini</p>
<p style="text-align:justify;">10. Bidang Kebudayaan</p>
<p style="text-align:justify;">Bidang kebudayaan dapat perhatian besar dari Pangeran Aria Suria Atmadja khususnya Tari Tayub dan Degung. Selain ahli dalam sastra sunda, Pangeran Aria Suria Atmadja pun membuat buku dan menciptakan lagu salah satunya Lagu Sonteng.</p>
<p style="text-align:justify;">11. Bidang Lainnya</p>
<p style="text-align:justify;">Membangun rumah untuk para kepala Onderdistrik, dibangunnya balai pengobatan gratis, dan menjaga keamanan diadakan siskamling.</p>
<p style="text-align:justify;">Masih banyak jasa lainnya dan atas segala jasanya dalam membangun Sumedang, baik itu pembangunan sarana fisik tetapi juga pembangunan manusianya. Pangeran Aria Suria Atmadja mendapat berbagai penghargaan atau tanda jasa dari pemerintah kolonial Belanda salah satunya tanda jasa Groot Gouden Ster (1891) dan dianugerahi beberapa bintang jasa tahun 1901, 1903, 1918, Payung Song-song Kuning tahun 1905, Gelar Adipati 1898, Gelar Aria 1906 dan Gelar Pangeran 1910.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada masa pemerintahan Pangeran Aria Suria Atmadja mendapatkan warisan pusaka-pusaka peninggalan leluhur dari ayahnya Pangeran Aria Suria Kusumah Adinata , Pangeran Aria Suria Atmadja mempunyai maksud untuk mengamankan, melestarikan dan menjaga keutuhan pusaka. Selain itu agar pusaka merupakan alat pengikat kekeluargaan, kesatuan dan persatuan wargi Sumedang, maka diambil langkah sesuai agama Islam Pangeran Aria Suria Atmadja mewakafkan pusaka ia namakan sebagai “barang-barang banda”, “kaoela pitoein”, “poesaka ti sepuh”, dan “asal pusaka ti sepuh-sepuh” kepada Tumenggung Kusumadilaga pada tanggal 22 September 1912, barang yang diwakafkannya itu tidak boleh diwariskan, tidak boleh digugat oleh siapa pun juga, tidak boleh dijual, tidak boleh dirobah-robah, tidak boleh ditukar dan diganti. Dengan demikian keutuhan, kebulatan dan kelengkapan barang pusaka terjamin. Wakaf mulai berlaku jika Pangeran Aria Suria Atmadja berhenti sebagai bupati Sumedang atau wafat.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1919 Pangeran Aria Suria Atmadja berhenti sebagai bupati Sumedang dengan mendapat pensiun. Pada tanggal 30 Mei 1919 dilakukan penyerahan barang “Asal pusaka ti sepuh-sepuh” dan “Tina usaha kaula pribadi” kepada Tumenggung Kusumadilaga yang menjadi bupati Sumedang menggantikan Pangeran Aria Suria Atmadja .Tumenggung Kusumadilaga baru menerima barang-barang yang diwakafkan kepadanya dengan ikhlas dan bersedia mengurusnya dengan baik seperti dalam suratnya tertanggal 18 Juni 1919.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 269px"><img title="Monumen Lingga di tengah alun-alun Sumedang untuk menghormati jasa – jasa Pangeran Aria Suria Atmadja." src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQJxNFDrhkSACuYY7cRgFS5ce5FGMGXh-0V-Ol2UcHNhmU0G-Ig" alt="Monumen Lingga di tengah alun-alun Sumedang untuk menghormati jasa – jasa Pangeran Aria Suria Atmadja." width="259" height="194" /><p class="wp-caption-text">Monumen Lingga di tengah alun-alun Sumedang untuk menghormati jasa – jasa Pangeran Aria Suria Atmadja.</p></div>
<p style="text-align:justify;">Pangeran Aria Suria Atmadja wafat pada tanggal 1 Juni 1921 dimakamkan di Ma’la Mekah ketika menunaikan ibadah haji sehingga di kenal sebagai Pangeran Mekah. Untuk menghormati jasa-jasanya pada tanggal 25 April 1922 didirikan sebuah monumen berbentuk Lingga di tengah alun-alun kota Sumedang, yang diresmikan Gubernur Jenderal D. Fock serta dihadiri para bupati, residen se-priangan serta pejabat-pejabat Belanda dan pribumi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>21. TUMENGGUNG ADIPATI KUSUMADILAGA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pangeran Aria Suria Atmadja digantikan oleh Tumenggung Aria Kusumadilaga (1919 – 1937) dikenal juga sebagai Dalem Bintang merupakan saudaranya.. Pada masa pemerintahannya mengalami perkembangan Volksraad (Dewan Rakyat Hindia Belanda), partai politik dan pemberontakan komunis di Jawa Barat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>22. TUMENGGUNG ARIA SURIA KUSUMAH ADINATA</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Tumenggung Adipati Kusumadilaga digantikan oleh Raden Suria Sumantri atau Dalem Aria, setelah menjadi bupati memakai gelar Tumenggung Aria Suria Kusumah Adinata (1937 – 1946) Dalem Aria merupakan bupati tiga jaman, pertama jaman Hindia Belanda, kedua Jepang dan Republik Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>24. RADEN HASAN SURIA SACAKUSUMAH</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Raden Hasan Suria Sacakusumah/“Bung Hasan” (1946 – 1947) diangkat sebagai bupati perjuang oleh Republik indonesia. Masa pemerintahannya ditandai perkembangan gerakan Darul Islam (DI) dan Infansi militer Belanda ke dua ke Indonesia, bupati dan rakyat Sumedang berangkat mengungsi ke pedalaman. Sehingga gedung kabupatian dan Srimanganti ditempati tentara Belanda. Pada masa jabatannya terdapat tiga macam pemerintahan di Sumedang, pemerintahan Belanda, pemerintahan Negara Pasundan dan Republik Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Berhubung Bung Hasan belum kembali dari pengungsian maka pemerintahan Hindia Belanda mengangkat Tumenggung Muhamad Singer sebagai Bupati Sumedang. Pada masa Muhamad Singer, Raden Hasan Suria Sacakusumah diangkat kembali menjadi bupati pada tahun 1949 menggantikan Muhamad Singer berangkat ke Belanda, masa jabatannya hanya satu tahun kemudian diserahkan kepada Raden Abdulrachman Suriasaputra.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>25. TUMENGGUNG MUHAMAD SINGER</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Tumenggung Muhamad Singer (1947 – 1949) merupakan keponakan dari Pangeran Aria Suria Atmadja. Sebelum diangkat menjadi Bupati Sumedang tahun 1938 adalah seorang Pamong Praja yang bertugas di Irian Barat, Australia, Sulawesi dan Kalimantan Timur di keresidenna. Pada tanggal 5 Desember 1947 diangkat menjadi Bupati Sumedang.</p>
<p style="text-align:justify;">Masa jabatannya Tumenggung Muhamad Singer banyak menghadapi banyak masalah salah satunya pemberontak Darul Islam (DI) dan pertempuran antara RI dan Belanda. Sampai akhirnya terbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) dan akhir masa jabatannya diberi tugas belajar ke negeri Belanda untuk mengikuti usaha pembangunan di berbagai negara yang dilanda perang dunia ke-2, sekembalinya dari Belanda ditempatkan di bagian Agraria Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1950 merupakan akhir rangkaian para bupati Sumedang keturunan leluhur Sumedang dari masa Prabu Tajimalela 721 sampai Tumenggung Muhamad Singer 1950.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Disusun oleh</strong> : <strong>Seksi Sejarah &amp; Silsilah -</strong><strong>Museum Prabu Geusan Ulun</strong></p>
<p><strong>Sumber Tulisan : <a href="http://pupuhusumedang.webs.com/apps/blog/?page=2" target="_blank">Pupuhu Sumedang</a></strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Artikel Berkaitan :</strong></span></p>
<ul>
<li><strong><a title="Kerajaan Sumedang Larang (3)" href="http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-3/">Kerajaan Sumedang Larang (3)</a></strong></li>
<li><strong><a title="Kerajaan Sumedang Larang (1)" href="http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-1/">Kerajaan Sumedang Larang (1)</a></strong></li>
<li><strong><a title="Kerajaan Sumedang Larang (1)" href="http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-1/"></a></strong><strong><a title="Pangeran Aria Suria Atmaja" href="http://pasulukan.wordpress.com/2011/04/14/pangeran-aria-suria-atmaja/">Pangeran Aria Suria Atmaja</a></strong></li>
</ul>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/analisis/'>Analisis</a>, <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/budaya/'>Budaya</a>, <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/ensiklopedia/'>Ensiklopedia</a>, <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/sejarah/'>Sejarah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wangsadita.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wangsadita.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wangsadita.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wangsadita.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wangsadita.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wangsadita.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wangsadita.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wangsadita.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wangsadita.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wangsadita.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wangsadita.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wangsadita.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wangsadita.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wangsadita.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wangsadita.wordpress.com&amp;blog=17822230&amp;post=71&amp;subd=wangsadita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1c46a187f126e0f207ad823743b31ed0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wangsadita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRA26Z7iWq-HkoEzZCTZyV-6MP8fJeENFkyAk1o6vAY7hN6WMWYOw" medium="image" />

		<media:content url="http://img31.imageshack.us/img31/9529/sumedanglarang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Situs bekas Benteng Keraton Sumedang Larang di Ciguling – Ds. Pasanggrahan Sumedang Selatan.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQl7m6q-wtB03d-PfOllWwM4Ah1ZR5LXX6GONH_O4YVDpZECyX_" medium="image">
			<media:title type="html">Makam Pangeran Rangga Gempol III / Pangeran Panembahan di Gunung Puyuh Kecamatan Sumedang Selatan.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTX6PBpGSCSDU3lTmmSdftpkdPWisqd8fYY4aBUekPPS_98ZGAHDw" medium="image">
			<media:title type="html">Komplek Pemakaman Gunung Puyuh Tempo Dulu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img831.imageshack.us/img831/6728/pangeransoeriaatmadja.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Pangeran Aria Suria Atmadja ketika mendapat penghargaan bintang jasa.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQJxNFDrhkSACuYY7cRgFS5ce5FGMGXh-0V-Ol2UcHNhmU0G-Ig" medium="image">
			<media:title type="html">Monumen Lingga di tengah alun-alun Sumedang untuk menghormati jasa – jasa Pangeran Aria Suria Atmadja.</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kerajaan Sumedang Larang (1)</title>
		<link>http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-1/</link>
		<comments>http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 08:42:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wangsadita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wangsadita.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Kerajaan Sumedang Larang adalah : Salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-15Masehi di Jawa Barat, Indonesia. Popularitas kerajaan ini tidak sebesar popularitas kerajaan Demak,Mataram, Banten dan Cirebon dalam literatur sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Tapi, keberadaan kerajaan ini merupakan bukti sejarah yang sangat kuat pengaruhnya dalam penyebaran Islam di Jawa Barat, sebagaimana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wangsadita.wordpress.com&amp;blog=17822230&amp;post=57&amp;subd=wangsadita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><a rel="attachment wp-att-60" href="http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-1/logo-ksl/"><img class="alignleft size-full wp-image-60" style="margin-left:0;margin-right:10px;" title="LOGO KSL" src="http://wangsadita.files.wordpress.com/2011/04/logo-ksl.jpg?w=406" alt=""   /></a>Kerajaan Sumedang Larang adalah :</strong></p>
<div id="blogEntry4855216" style="text-align:justify;">
<div>
<p>Salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-15Masehi di Jawa Barat, Indonesia. Popularitas kerajaan ini tidak sebesar popularitas kerajaan Demak,Mataram, Banten dan Cirebon dalam literatur sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.<span id="more-57"></span> Tapi, keberadaan kerajaan ini merupakan bukti sejarah yang sangat kuat pengaruhnya dalam penyebaran Islam di Jawa Barat, sebagaimana yang dilakukan olehKerajaan Cirebon dan Kerajaan Banten.</p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Sejarah</strong></span></p>
<p>Kerajaan Sumedang Larang (kini Kabupaten Sumedang) adalah salah satu dari berbagai kerajaan Sunda yang ada di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Terdapat kerajaan Sunda lainnya seperti Kerajaan Pajajaran yang juga masih berkaitan erat dengan kerajaan sebelumnya yaitu (Kerajaan Sunda-Galuh), namun keberadaan Kerajaan Pajajaran berakhir di wilayah Pakuan, Bogor, karena serangan aliansi kerajaan-kerajaan Cirebon, Banten dan Demak (Jawa Tengah). Sejak itu, Sumedang Larang dianggap menjadi penerus Pajajaran dan menjadi kerajaan yang memiliki otonomi luas untuk menentukan nasibnya sendiri.</p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Masa Pergantian Kekuasaan</strong></span></p>
<ol>
<li>Kerajaan Sumedang Larang	900 – 1601</li>
<li>Pemerintahan Mataram II	1601 – 1706</li>
<li>Pemerintahan Vereenigde Oostindische Compagnie(VOC)	1706 – 1811</li>
<li>Pemerintahan Inggris	1811 – 1816</li>
<li>Pemerintahan Belanda/Nederland Oost-Indie	1816 – 1942</li>
<li>Pemerintahan Jepang	1942 – 1945</li>
<li>Pemerintahan Republik Indonesia	1945 – 1947</li>
<li>Pemerintahan Republik Indonesia/Belanda	1947 – 1949</li>
<li>Pemerintahan Negara Pasundan	1949 – 1950</li>
<li>Pemerintahan Republik Indonesia	1950 – sekarang</li>
</ol>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Asal-Mula Nama</strong></span></p>
<p>Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang beragama Hindu, yang didirikan oleh Prabu Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan.</p>
<p>Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembongartinya nampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke XII.</p>
<p>Kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi <span style="color:#000000;"><em><strong>Himbar Buana</strong></em>,</span> yang berarti menerangi alam, Prabu Tajimalela pernah berkata <strong><em>“Insun medal; Insun madangan”.</em></strong> Artinya Aku dilahirkan; Aku menerangi.</p>
<p>Kata Sumedang diambil dari kata Insun Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya menjadi Sumedang. Ada juga yang berpendapat berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya menjadi Sumedang dan Larang berarti <strong><em>sesuatu yang tidak ada tandingnya.</em></strong></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Pemerintahan berdaulat</strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">1 . Nama Raja-raja Kerajaan Sumedang Larang</span></strong></p>
<ul>
<li>Prabu Guru Aji Putih	900</li>
<li>Prabu Agung Resi Cakrabuana/Prabu Taji Malela	950</li>
<li>Prabu Gajah Agung	980</li>
<li>Sunan Guling	1000</li>
<li>Sunan Tuakan	1200</li>
<li>Nyi Mas Ratu Patuakan	1450</li>
<li>Ratu Pucuk Umun/Nyi Mas Ratu Dewi Inten Dewata	1530-1578</li>
<li>Prabu Geusan Ulun/Pangeran Angkawijaya	1578-1601</li>
</ul>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>2. Nama Bupati Wedana Masa PemerintahanMataram II</strong></span></p>
<ul>
<li>R. Suriadiwangsa/Pangeran Rangga Gempol I	1601-1625</li>
<li>Pangeran Rangga Gede	1625-1633</li>
<li>Pangeran Rangga Gempol II	1633-1656</li>
<li>Pangeran Panembahan/Pangeran Rangga Gempol III	1656-1706</li>
</ul>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>3. Nama Bupati Wedana Masa Pemerintahan VOC, Inggris, Belanda dan Jepang</strong></span></p>
<ul>
<li>Dalem Tumenggung Tanumaja	1706- 1709</li>
<li>Pangeran Karuhun	1709- 1744</li>
<li>Dalem Istri Rajaningrat	1744- 1759</li>
<li>Dalem Anom	1759- 1761</li>
<li>Dalem Adipati Surianagara	1761- 1765</li>
<li>Dalem Adipati Surialaga	1765- 1773</li>
<li>Dalem Adipati Tanubaja (Parakan Muncang)	1773- 1775</li>
<li>Dalem Adipati Patrakusumah (Parakan Muncang)	1775- 1789</li>
<li>Dalem Aria Sacapati	1789- 1791</li>
<li>Pangeran Kornel / Pangeran Kusumahdinata	1791- 1800</li>
<li>Bupati Republik Batavia Nederland	1800- 1810</li>
<li>Bupati Kerajaan Nederland, dibawah Lodewijk, AdikNapoleon Bonaparte	1805- 1810</li>
<li>Bupati Kerajaan Nederland, dibawah Kaisar Napoleon Bonaparte	1810- 1811</li>
<li>Bupati Masa Pemerintahan Inggris	1811- 1815</li>
<li>Bupati Kerajaan Nederland	1815- 1828</li>
<li>Dalem Adipati Kusumahyuda / Dalem Ageung	1828- 1833</li>
<li>Dalem Adipati Kusumahdinata / Dalem Alit	1833- 1834</li>
<li>Dalem Tumenggung Suriadilaga / Dalem Sindangraja	1834- 1836</li>
<li>Pangeran Suria Kusumah Adinata / Pangeran Soegih	1836- 1882</li>
<li>Pangeran Aria Suria Atmaja / Pangeran Mekkah	1882- 1919</li>
<li>Dalem Adipati Aria Kusumahdilaga / Dalem Bintang	1919- 1937</li>
<li>Dalem Tumenggung Aria Suria Kusumah Adinata/Dalem Aria S.	1937- 1942</li>
<li>Bupati Masa Pemerintahan Jepang	1942- 1945</li>
<li>Bupati Masa Peralihan Republik Indonesia	1945- 1946</li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">4.  Bupati Masa Pemerintahan Republik Indonesia</span></strong></p>
<ul>
<li>Raden Hasan Suria Sacakusumah	1946- 1947</li>
</ul>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>5. Bupati Masa Pemerintahan Belanda / Indonesia</strong></span></p>
<ul>
<li>Raden Tumenggung M. Singer	1947- 1949</li>
</ul>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>6. Bupati Masa Pemerintahan Negara Pasundan</strong></span></p>
<ul>
<li>Raden Hasan Suria Sacakusumah	1949- 1950</li>
</ul>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>7. Bupati Masa Pemerintahan Republik Indonesia</strong></span></p>
<ul>
<li>Radi (Sentral Organisasi Buruh Republik Indonesia)	1950</li>
<li>Raden Abdurachman Kartadipura	1950- 1951</li>
<li>Sulaeman Suwita Kusumah	1951 – 1958</li>
<li>Antan Sastradipura	1958- 1960</li>
<li>Muhammad Hafil	1960- 1966</li>
<li>Adang Kartaman	1966- 1970</li>
<li>Drs. Supian Iskandar	1970- 1972</li>
<li>Drs. Supian Iskandar	1972- 1977</li>
<li>Drs. Kustandi Abdurahman	1977- 1983</li>
<li>Drs. Sutarja	1983- 1988</li>
<li>Drs. Sutarja	1988- 1993</li>
<li>Drs. H. Moch. Husein Jachja Saputra	1993- 1998</li>
<li>Drs. H. Misbach	1998- 2003</li>
<li>H. Don Murdono, SH. Msi	2003- 2008</li>
<li>H. Don Murdono, SH. Msi	2008- 2013</li>
</ul>
<div><strong><a href="http://pupuhusumedang.webs.com/apps/blog/?page=2" target="_blank">Sumber : Pupuhu Sumedang</a></strong></div>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Artikel Berkaitan :</strong></span></p>
<ul>
<li><strong><a title="Kerajaan Sumedang Larang (3)" href="http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-3/">Kerajaan Sumedang Larang (3)</a></strong></li>
<li><strong><a title="Kerajaan Sumedang Larang (2)" href="http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-2/">Kerajaan Sumedang Larang (2)</a></strong></li>
<li><strong><a title="Kerajaan Sumedang Larang (2)" href="http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-2/"></a><a href="http://pasulukan.wordpress.com/2011/04/14/pangeran-aria-suria-atmaja/" target="_blank">Pangeran Aria Suria Atmaja</a></strong></li>
</ul>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/analisis/'>Analisis</a>, <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/budaya/'>Budaya</a>, <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/sejarah/'>Sejarah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wangsadita.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wangsadita.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wangsadita.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wangsadita.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wangsadita.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wangsadita.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wangsadita.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wangsadita.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wangsadita.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wangsadita.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wangsadita.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wangsadita.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wangsadita.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wangsadita.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wangsadita.wordpress.com&amp;blog=17822230&amp;post=57&amp;subd=wangsadita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/14/kerajaan-sumedang-larang-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1c46a187f126e0f207ad823743b31ed0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wangsadita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wangsadita.files.wordpress.com/2011/04/logo-ksl.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">LOGO KSL</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beda Sunnatullah dengan Takdir</title>
		<link>http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/07/beda-sunnatullah-dengan-takdir/</link>
		<comments>http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/07/beda-sunnatullah-dengan-takdir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 16:20:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wangsadita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedia]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wangsadita.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Ada sedikit kesalahpahaman di kalangan mereka yang kerap membicarakan konsep sunnatullah (sunnat-u ‘l-Lâh).<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wangsadita.wordpress.com&amp;blog=17822230&amp;post=52&amp;subd=wangsadita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignright" style="margin-left:10px;margin-right:0;" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQOBxkNcLV2Zt4cmMQGb6bkdrhVzdtoIuE8iMIpCulL95JRoa78Lg" alt="" width="192" height="129" /></p>
<p style="text-align:justify;">Ada sedikit kesalahpahaman di kalangan mereka yang kerap membicarakan konsep sunnatullah (sunnat-u ‘l-Lâh). Mereka menggunakan perkataan sunnatullah termasuk untuk hukum yang menguasai alam kebendaan.<span id="more-52"></span> Sebetulnya tidak, kalau dikembalikan kepada al-Qur’an, sunnatullah adalah hukum yang menguasai kehidupan manusia dalam sejarah. Tegasnya, hukum sejarah. Karena itu sunnatullah sebenarnya lebih banyak berurusan dengan peradaban dan kebudayaan. Perkataan inilah yang disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan perintah Tuhan untuk mempelajari sejarah, “(Demikian itulah) hokum Allah yang juga berlaku bagi mereka yang terdahulu, dan tidak ada kaudapatkan perubahan pada hokum Allah,” (Q. 33: 62). Dengan demikian, sunnatullah adalah hukum yang menguasai sejarah. Mempelajari peradaban, kebudayaan, sejarah, yang kemudian menghasilkan ilmu-ilmu sosial dan humaniora, sebetulnya sama dengan mempelajari sunnatullah.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk alam ada istilah yang lain, yaitu takdir–sebelum istilah ini menjadi istilah ilmu kalam. Takdir artinya ketentuan yang pasti dari Tuhan. Maka gambaran bahwa matahari beredar menurut garis edar yang sudah ditetapkan, seperti dinyatakan dalam surat Yâsîn, itu disebut sebagai takdir. “Dan matahari beredar menurut waktu yang sudah ditentukan baginya; itulah ketentuan Yang Mahaperkasa, Mahatahu,” (Q. 36: 38). Kemudian ada ilustrasi tentang rembulan sejak dari bulan purnama sampai dengan tertutup kembali, itu pun takdir dari Tuhan. “Dan rembulan itu Kami takdirkan berfase-fase, dari bulan purnama menjadi bulan sabit ataupun yang semula,” (Q. 36: 39).</p>
<p style="text-align:justify;">Tuhan menyebabkan adanya dua hukum, yang pertama adalah sunnatullah dan yang kedua takdir. Sunnatullah artinya tradisi, kebiasaan yang mapan dan mantap; sedangkan takdir artinya ketentuan yang pasti. Tuhan seolah-olah mengatakan bahwa kehidupan manusia–dalam sejarah yang menyangkut masalah politik, budaya, ekonomi dan sebagainya–itu dikuasai oleh hukum-hukum yang berasal dari kebiasaan-kebiasaan yang ada. Tetapi kebiasaan ini begitu rupa sehingga oleh Tuhan diilustrasikan sebagai tidak pasti, “dan tidak ada kaudapatkan perubahan pada hokum Allah,” (Q. 33: 62).</p>
<p style="text-align:justify;">Daya prediksi ilmu sosial relatif rendah, karena itu untuk mendapatkan prediksi yang akurat seluruh karya-karya ilmu sosial harus dikuasai. Sementara pengamatan terhadap benda menghasilkan exact science atau ilmu eksakta. Disebut ilmu eksakta karena variabelnya pendek, sehingga seluruhnya bisa dikuasai. Jika seorang ahli air ingin mengetahui apa hakekat air sungai Ciliwung, mudah saja; ia tinggal mengambil sampel air Ciliwung kemudian dibawa ke laboratorium. Konklusi yang dia buat melalui penelitian di laboratorium itu hardly predictable, artinya siapa pun yang mengambil air sungai Ciliwung akan menghasilkan konklusi yang sama. Tetapi ilmu-ilmu kemasyarakatan tidak bisa begitu, karena banyak sekali variabel yang terlibat di dalamnya. Waktu Iran masih dalam kekuasaan Shah, banyak sekali ahli Iran di Barat, termasuk Amerika–karena Shah bersimpati kepada Barat dan orang Barat banyak bersimpati kepada Shah. Mereka mengarang banyak sekali buku mengenai Iran, tetapi tidak satu pun yang menduga bahwa Shah yang hebat itu bakal jatuh oleh Khomeini. Sehingga ketika Khomeini ternyata menang, mereka kaget dan bertanya-tanya, bagaimana itu bisa terjadi. Begitulah, ada variabel yang tidak mereka perhitungkan. Apalagi kalau persoalannya bukan hanya kepada yang observable saja, tetapi juga menyangkut yang tidak observable. Siapa tahu! Bukankah Nabi juga mengatakan bahwa beliau saja tidak diberitahukan untuk melacak data orang sebab semua itu hanya diketahui oleh Allah swt.</p>
<p style="text-align:justify;">Masalah-masalah sosial kalau didekati dengan cara berpikir eksakta dan satu garis (monolinier), ia akan semakin jauh, sebab itu berarti mengasumsikan tidak adanya variabel yang lain. Karena itu, menarik bahwa Ibn Khaldun menutup Muqaddimah-nya dengan mengatakan bahwa ia telah merintis sebuah ilmu baru, yaitu ‘ilm ‘umrân atau ilmu peradaban. Dia mengatakan bahwa tidaklah layak dan tidak mungkin seseorang mengembangkan ilmu itu secara sempurna, adalah kewajiban generasi berikutnya untuk mengembangkan dan menumbuhkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi, apakah dengan demikian tidak ada lagi keperluan untuk mempelajari soft science? Tetap perlu, sebab sebagian besar pola-pola yang mengatur hidup ini karena konsep-konsep ilmu sosial. Itulah sebabnya mengapa kemudian dalam al-Qur’an ada perintah untuk mempelajari sejarah. Dalam al-Qur’an disebutkan, “Katakanlah, ‘Jelajahilah bumi ini kemudian lihatlah bagaimana akibat orang yang mendustakan (kebenaran),” (Q. 6: 11). Memang disebutkan yang negatif, yaitu bagaimana orang bisa belajar dari kegagalan, atau dari malapetaka yang menimpa bangsa-bangsa yang lalu. Tetapi unsur positifnya juga bisa dilihat, yaitu bagaimana orang bisa belajar dari pengalaman-pengalaman yang baik daripada yang lalu. Cuma karena yang positif ini tidak begitu dramatis, dan biasanya yang lebih penting adalah belajar dari kegagalan, maka al-Qur’an selalu menunjukkan yang negatif, seperti “Sudah banyak cara (sunnah—NM) yang sudah berlalu sebelum kamu: mengembaralah ke segenap penjuru bumi, dan lihat bagaimana berakhirnya orang yang mendustakan (kebenaran),” (Q. 3: 137). Dulu, ayat itu pernah menjadi bagian dari etos orang Islam, sehingga banyak orang Islam mengembara (ke mana-mana).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam film Marcopolo juga banyak digambarkan bahwa ia sering bertemu dengan orang Islam. Bahkan sampai di Beijing pun ia masih bertemu dengan orang-orang Islam. Jadi orang-orang Islam dulu memang mengembara ke mana-mana. Di dalam al-Qur’an ada ilustrasi bahwa nanti di akhirat setiap orang akan dimintai tanggung jawab atas semua perbuatannya. Dan di antaranya ada yang mengatakan, “Kami orang-orang yang lemah di bumi ini,” (Q. 4: 97). Dengan itu sebenarnya yang ingin dikatakan adalah bahwa mereka di bumi tidak bisa berbuat lain kecuali berbuat yang jahat, karena kami dikuasai oleh penguasa yang zalim, diktator, dan otoriter. Argumen semacam itu ternyata tidak diterima oleh Tuhan, “Bukankah bumi Allah luas, kamu dapat berhijrah?” (Q. 4: 97). Artinya memang ada perintah untuk mengembara. Karena pengalaman hidup manusia, termasuk percobaan mendirikan masyarakat yang baik, tidak ada laboratoriumnya; satu-satunya laboratorium adalah sejarah. Itulah sebabnya mengapa kemudian banyak sekali perintah dalam al-Qur’an supaya mempelajari sejarah.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada waktu turunnya ayat-ayat itu, yang dimaksud sejarah tentunya ialah sejarah sebelum Nabi. Sekarang, by analogy, sejarah yang dimaksud tentu saja sejarah sebelum dan sesudah Nabi, termasuk sejarah Islam. Itu yang harus dipelajari. Kegagalan umat Islam yang paling mencolok sekarang ini ialah bahwa mereka tidak mempunyai kesadaran sejarah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://studiislam.com/ensiklopedi-cak-nur/beda-sunnatullah-dengan-takdir/" target="_blank">Studi Islam </a></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/agama/'>Agama</a>, <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/analisis/'>Analisis</a>, <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/ensiklopedia/'>Ensiklopedia</a>, <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/renungan/'>Renungan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wangsadita.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wangsadita.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wangsadita.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wangsadita.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wangsadita.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wangsadita.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wangsadita.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wangsadita.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wangsadita.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wangsadita.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wangsadita.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wangsadita.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wangsadita.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wangsadita.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wangsadita.wordpress.com&amp;blog=17822230&amp;post=52&amp;subd=wangsadita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wangsadita.wordpress.com/2011/04/07/beda-sunnatullah-dengan-takdir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1c46a187f126e0f207ad823743b31ed0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wangsadita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQOBxkNcLV2Zt4cmMQGb6bkdrhVzdtoIuE8iMIpCulL95JRoa78Lg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Borobudur Ternyata Bukan Hindu-Budha Tapi Islami?</title>
		<link>http://wangsadita.wordpress.com/2011/03/26/borobudur-ternyata-bukan-hindu-budha-tapi-islami/</link>
		<comments>http://wangsadita.wordpress.com/2011/03/26/borobudur-ternyata-bukan-hindu-budha-tapi-islami/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Mar 2011 21:31:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wangsadita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wangsadita.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Benarkah Tanah Yang Dijanjikan Bukanlah Palestina, Indonesia/Nusantara adalah “THE PROMISED LAND” yang sebenarnya?
<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wangsadita.wordpress.com&amp;blog=17822230&amp;post=40&amp;subd=wangsadita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" style="margin-left:0;margin-right:10px;" src="http://cache.virtualtourist.com/2662368-Merapi_in_the_distance_Boro_at_Sunrise-Borobudur.jpg" alt="" width="184" height="180" />Tentang  Peradaban Jawa (Peradaban Atlantis) dikaitkan dengan kiprah Bani  Israel, ada fakta yang menarik apabila anda berkunjung ke situs resmi  Israel misalnya di Kantor Perdana Menteri Israel dan Kantor Kedubes  Israel di seluruh dunia terpampang nama Ibukota Israel : JAVA TEL AVIV /  JAWA TEL AVIV, dan MAHKOTA RABBI YAHUDI yang menjadi imam Sinagog pake  gambar RUMAH JOGLO JAWA. <span id="more-40"></span>Dengan  demikian apakah Bani Israel merasa menjadi keturunan Jawa ? Yang  disebut Jawa adalah seluruh Etnik Nusantara yang dulunya penghuni Benua  Atlantis sebelum dikirim banjir besar oleh Allah SWT,  setelah banjir besar benua ini pecah menjadi 17.000 pulau yang sekarang  disebut Indonesia, hanya beberapa etnik yang masih tersisa, selebihnya  menjadi cikal bakal bangsa2 dunia antara lain bangsa India, Cina (  termasuk Jepang ), Eropa, Israel, Arab, dan Indian ( silahkan baca hasil  penelitian Prof. Santos selama 30 tahun tentang Benua Atlantis terbitan  Gramedia ).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bahasa Jawi Kuno, arti jawa adalah moral atau  akhlaq, maka dalam percakapan sehari-hari apabila dikatakan seseorang  dikatakan : “ora jowo” berarti “tidak punya akhlaq atau tidak punya  sopan santun”, sebutan jawa ini sejak dulunya dipakai untuk menyebut  keseluruhan wilayah nusantara, penyebutan etnik2 sebagaimana berlaku  saat ini adalah hasil taktik politik de vide et impera para penjajah.  Sejak zaman Benua Atlantis, Jawa memang menjadi pusat peradaban karena  dari bukti2 fosil manusia purba di seluruh dunia sebanyak 6 jenis fosil,  4 diantaranya ditemukan di Jawa.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut “mitologi jawa” yang  telah menjadi cerita turun temurun, bahwa asal usul bangsa Jawa adalah  keturunan BRAHMA DAN DEWI SARASWATI dimana salah satu keturunannya yang  sangat terkenal dikalangan Guru Hindustan (India) dan Guru Budha (Cina)  adalah Bethara Guru Janabadra yang mengajarkan “ILMU KEJAWEN”. Sejatinya  “Ilmu Kejawen” adalah “Ilmu Akhlaq” yang diajarkan Nabi Ibrahim AS yang  disebut dalam Alqur’an “Millatu Ibrahim” dan disempurnakan oleh Nabi  Muhammad SAW dalam wujud Alqur’an dengan “BAHASA ASLI (ARAB)”, dengan  pernyataannya “tidaklah aku diutus, kecuali menyempurnakan akhlaq”.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam  buku kisah perjalanan Guru Hindustan di India maupun Guru Budha di  Cina, mereka menyatakan sama2 belajar “Ilmu Kejawen” kepada Guru  Janabadra dan mengembangkan “Ilmu Kejawen” ini dengan nama sesuai dengan  asal mereka masing2, di India mereka namakan “Ajaran Hindu”, di Cina mereka namakan “Ajaran Budha”. Dalam sebuah riset terhadap kitab suci Hindu, Budha dan Alqur’an, ternyata tokoh BRAHMA sebenarnya adalah NABI IBRAHIM, sedang DEWI SARASWATI adalah DEWI SARAH yang menurunkan bangsa2 selain ARAB. Bukti lain bahwa Ajaran Budha berasal dari Jawa  adalah adanya prasasti yang ditemukan di Candi2 Budha di Thailand  maupun Kamboja yang menyatakan bahwa candi2 tsb dibangun dengan  mendatangkan arsitek dan tukang2 dari Jawa, karena memang waktu itu  orang Jawa dikenal sebagai bangsa tukang yang telah berhasil membangun  “CANDI BOROBUDUR” sebagai salah satu keajaiban dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata berdasarkan hasil riset Lembaga Studi Islam dan Kepurbakalaan yang dipimpin oleh KH. Fahmi Basya, dosen Matematika Islam UIN Syarif Hidayatullah,  bahwa sebenarnya “CANDI BOROBUDUR” adalah bangunan yang dibangun oleh  “TENTARA NABI SULAIMAN” termasuk didalamnya dari kalangan bangsa Jin dan  Setan yang disebut dalam Alqur’an sebagai “ARSY RATU SABA”, sejatinya PRINCE OF SABA atau “RATU BALQIS” adalah “RATU BOKO” yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Jawa, sementara patung2 di Candi Borobudur yang selama ini dikenal sebagai patung  Budha, sejatinya adalah patung model bidadara dalam sorga yang  menjadikan Nabi Sulaiman sebagai model dan berambut keriting.  Dalam literatur Bani Israel dan Barat, bangsa Yahudi dikenal sebagai  bangsa tukang dan berambut keriting, tetapi faktanya justru Suku Jawa  yang menjadi bangsa tukang dan berambut keriting ( perhatikan patung  Nabi Sulaiman di Candi Borobudur ).</p>
<p style="text-align:justify;">Hasil riset tsb juga  menyimpulkan bahwa “SUKU JAWA” disebut juga sebagai “BANI LUKMAN” karena  menurut karakternya suku tsb sesuai dengan ajaran2 LUKMANUL HAKIM  sebagaimana tertera dalam Alqur’an. Perlu diketahui bahwa satu2nya nabi  yang termaktub dalam Alqur’an, yang menggunakan nama depan SU hanya Nabi  Sulaiman dan negeri yang beliau wariskan ternyata diperintah oleh  keturunannya yang juga bernama depan SU yaitu Sukarno, Suharto, dan  Susilo serta meninggalkan negeri bernama SLEMAN di Jawa Tengah. Nabi  Sulaiman mewarisi kerajaan dari Nabi Daud yang dikatakan didalam  Alqur’an dijadikan Khalifah di Bumi ( menjadi Penguasa Dunia dengan  Benua Atlantis sebagai Pusat Peradabannya), Nabi Daud juga dikatakan  raja yang mampu menaklukkan besi (membuat senjata dan gamelan dengan  tangan, beliau juga bersuara merdu) dan juga menaklukkan gunung hingga  dikenal sebagai Raja Gunung. Di Nusantara ini yang dikenal sebagai Raja  Gunung adalah “SYAILENDRA” , menurut Dr. Daoed Yoesoef nama Syailendra  berasal dari kata saila dan indra, saila = gunung dan indra = raja.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi  sebenarnya Bani Israel yang sekarang menjajah Palestina bukan keturunan  Israel asli yang hanya terdiri 12 suku, tapi mereka menamakan diri suku  ke 13 yaitu Suku Khazar (yg asalnya dari Asia Tengah) hasil perkawinan  campur Bani Israel yang mengalami diaspora dengan penduduk lokal, posisi  suku Khazar ini mayoritas di seluruh dunia. Sedang Yahudi asli Telah  menghilang yg dikenal sebagai suku-suku yg hilang &#8220;The Lost Tribes&#8221; yang  mana mereka pergi ke timur dan banyak yg menuju ke “THE PROMISED LAND”  yaitu Indonesia.</p>
<br />Filed under: <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/agama/'>Agama</a>, <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/analisis/'>Analisis</a>, <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/budaya/'>Budaya</a>, <a href='http://wangsadita.wordpress.com/category/ensiklopedia/'>Ensiklopedia</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wangsadita.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wangsadita.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wangsadita.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wangsadita.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wangsadita.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wangsadita.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wangsadita.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wangsadita.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wangsadita.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wangsadita.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wangsadita.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wangsadita.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wangsadita.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wangsadita.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wangsadita.wordpress.com&amp;blog=17822230&amp;post=40&amp;subd=wangsadita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wangsadita.wordpress.com/2011/03/26/borobudur-ternyata-bukan-hindu-budha-tapi-islami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1c46a187f126e0f207ad823743b31ed0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wangsadita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cache.virtualtourist.com/2662368-Merapi_in_the_distance_Boro_at_Sunrise-Borobudur.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
