Jaipong – Erotisme Itu Kodrati

Gugum Gumbira

MENYEBUT Jaipongan sesungguhnya tak hanya akan mengingatkan orang pada sejenis tari tradisi Sunda yang atraktif dengan gerak yang dinamis. Tangan, bahu, dan pinggul selalu menjadi bagian dominan dalam pola gerak yang lincah, diiringi oleh pukulan kendang. Terutama pada penari perempuan, seluruhnya itu selalu dibarengi dengan senyum manis dan kerlingan mata. Inilah sejenis tarian pergaulan dalam tradisi tari Sunda yang muncul pada akhir tahun 1970-an yang sampai hari ini popularitasnya masih hidup di tengah masyarakat.

Jaipongan adalah sebuah fenomena menarik dan penting dalam perkembangan khazanah tari Sunda dan itu tak hanya mendasar pada gagasan estetis yang diusungnya, melainkan juga pada bagaimana kemudian tarian ini membuat fenomena tersendiri atas sambutan masyarakat terhadapnya. Akhir tahun 1970-an sebagai awal kemunculannya Jaipongan langsung menjadi trend yang mencengangkan.

Tak hanya menjadi pentas “wajib” di panggung-panggung kawinan di rumah penduduk, atau juga pentas 17 Agustusan, tapi juga bahkan sampai ke pentas yang prestisius. Dari mulai hotel hingga atraksi pertunjukan seremonial besar lainnya, bahkan juga melanglang buana ke berbagai negara sebagai misi kesenian.

Di tengah masyarakat, demam Jaipongan ketika itu menjadi fenomena yang belum pernah terjadi terhadap jenis tari tradisi lainnya. Termasuk di perkotaan dengan minat para remaja terhadap tarian ini.

Maka di mana-mana ketika itu berdirilah sanggar dan kursus-kursus Jaipongan. Di antar oleh ibunya, anak sekolah pun begitu antusias mengikutinya. Nama-nama seperti Daun Pulus dan Keser Bojong ketika

itu amat populer sebagai tembang pengiring Jaipongan. Begitu nama Mang Samin, atau penari Tati Saleh (alm.), dan sebutan serempak berbunyi “Jugala” dengan pukulan kendang yang ritmis.

Tapi menyebut Jaipongan adalah juga memanggil ingatan pada seorang seniman yang namanya tak bisa dipisahkan dari tarian tersebut, yakni Gugum Gumbira. Ingatan pada lelaki yang usianya sama dengan usia negara ini memang harus dipanggil kembali mengingat nama dan sosoknya lama tak lagi terdengar. Jika pun pernah terdengar, nama itu selalu dihubungkan jabatan birokrasi yang disandangnya sebagai Kepala Dinas Pariwisata atau manajer Persib, ketimbang dengan Jaipongan, terlebih di mata anak-anak muda meski memang Jaipongan sampai hari ini masih diminati.

Nama itu kemudian makin menjarak dari publik setelah Gugum Gumbira pensiun. Kecuali sesekali muncul dan berkumpul bersama komunitas seniman di suatu acara, Gugum Gumbira memang jarang sekali muncul di tengah publik.

“Yah, kesibukan sebagaimana orang yang sudah pensiunlah! Yang tadinya ingin santai ternyata ada usaha dan pekerjaan. Wiraswasta. Ternyata sama sibuknya, bahkan mungkin lebih sibuk ketimbang birokrat,” ujarnya dalam percakapan di rumahnya yang sejuk di kawasan Jalan Kopo Bandung Rabu (29/3).

“Kesibukan saya mengelola padi dan beras. Juga mengurus studio rekaman. Ketiganya, saya diajak oleh teman di Jakarta membuat perusahaan. Saya diminta untuk membantu,” tambah suami dari sinden Cianjuran terkenal, Euis Komariah ini.

Sebagai birokrat seseorang bisa saja pensiun, tapi rasanya tidak sebagai seniman. Begitu juga dengan Gugum Gumbira. Lelaki yang pernah membawa Jaipongan ke berbagai negara di Eropa dan Asia ini dengan semangat akan bertutur banyak jika diajak bicara tentang Jaipongan, termasuk ketika dihubung-hubungkan dengan apa yang tengah marak dan tarik-menarik pro-kontra di tengah masyarakat yakni Rancangan Undang- Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUUAPP). Bahkan kadang-kadang nada suaranya mendadak menjadi tinggi.

“Ini menyangkut etnik! Ini menyangkut seni tradisi yang sudah jadi misi kesenian ke berbagai negara. Nanti, misalnya, tidak boleh karena undang-undang itu muncul, ini apa? Lepas dari soal setuju tidak setuju, saya belum tahu. Tapi saya juga anak sekolahan, bekas birokrat, tahu sedikit banyak apa itu peraturan, hukum dan undang-undang!” katanya sengit. Berikut percakapan kami, dari mulai persoalan Jaipongan hingga erotisme.

Bagaimana dulu proses Anda menciptakan Jaipongan itu? Asal kata Jaipongan itu dari mana?

Kata Jaipongan itu memang bukan arti kata suatu bangunan kesenian, tapi dibawakan oleh Alisahban dan Ijem di Topeng Banjet Gaya Asmara. Topeng Banjet itu kan berlakon, nah, di tengah ceritanya ada bodorannya. Itu yang muncul sampai sekarang Ijem, kalau Alisahbannya sudah wafat. Di tengah permainan mereka berdua ketika itu terdapat bunyi ucapan “Jaipong”. Kata itu mereka lantunkan untuk meniru bunyi pukulan kendang yang dilatahkan, blaktingpong! Jadi “Jaipong”. Jadi keluarnya kata Jaipong, saya mendengarnya dari Alisahban dan Ijem di tengah-tengah pertunjukan lakon teater rakyat Topeng Banjet, dalam sesi bobodoran. Bunyi pukulan kendang itu blaktingpong dan oleh Alisahban dan Ijem itu ditirukan bunyinya jadi “Jaipong”. Itu saja. Tidak ada artinya, lebih ke bunyi, seperti asal kata dangdutlah!

Terus inspirasi Anda bagaimana bisa mengadopsi dan menjadikannya sebuah tarian?

Saya sudah membuat satu konsep gerak yang pada waktu itu belum ada namanya. Konsep gerak itu saya bayangkan akan bisa dicerna dan dimainkan, dan diminati oleh remaja untuk jadi tari pergaulan dan tari pertunjukan. Waktu itu kan ngahikhok tidak boleh. Saya berpikir ketika itu tarian tersebut bisa sebagai penggantinya sebagai tari pergaulan.

Saya memulainya itu dari tahun 1968 dan selesai tahun 1976. Tahun 1978 ada Festival Tari Rakyat Jawa Barat yang dilaksanakan oleh Projek Pengembangan Kebudayaan Jawa Barat. Nah, saya dimasukkan ke dalam event tersebut sebab saya dianggap punya sesuatu yang dianggap baru. Tapi memang belum selesai. Garapan karawitannya belum selesai. Lantas apa boleh buat, harus diselesaikan dan langsung mengikuti festival itu. Hanya namanya waktu itu sayamemakai nama “Ketuk Tilu Perkembangan”. Nah, dalam seminar, panitiamendapatkan masukan dari seniman komunitas Ketuk Tilu. Mereka keberatan saya memakai nama “Ketuk Tilu Perkembangan”, sebab Ketuk Tilu belum mati. Jadi, kreasi saya itu belum ada namanya. Diberi waktu oleh panitia, seminggu harus ada nama baru, sebab ini semua baru. Lain dari Ketuk Tilu, berbeda dari Tayub, lain dari apa saja yang waktu itu difestivalkan. Wah, bingung saya! Tadinya mau sayanamain Bojongan, tapi Bojongan terlalu banyak kan? Nah, saya pergi ke Karawang, perlu tukang gong. Tapi tukang goong itu sedang dipake oleh Alisahban. Di situ saya mendengar kata-kata Jaipongan, lalu saya pikir sudah saja ini namanya. Tapi sempat saya tanya pada Alisahban, arti kata Jaipongan. Kata dia tidak ada artinya. Hanya untuk bobodoran. Ini melawak saja. Jadi dalam adegan bobodoran itu, Alisahban berperan sebagai guru tari dan mencontohkan gerak, “Mundur- mun­dur lalu maju-maju, blaktingpong blaktingpong pletuk-pletuk! Lalu disusul oleh suara gamelan, Jaipong! Jaipong! Ya, sudah jadi saja Jaipongan.

Terus gerak idiom tari pergaulan itu Anda ciptakan sendiri atau mencoba mengadopsi dari tradisi yang sudah ada?

Oh tidak! Jadi, saya survei dari tahun 1967 ke seantero Jawa Barat sampai ke Betawi dan yang banyak tersebar di Jawa Barat itu memang Ketuk Tilu. Yang telah menjadi baku adalah pencak silat dan itu sudah menjadi bahan dasar bagi saya, itu pun tidak seutuhnya gerak pencak. Tapi yang diambil esensi dinamika gerak dan karakternya, yang memang sama dengan modern dance anak-anak muda ketika itu.

SATU hal juga patut diingat orang ketika itu, yakni ketika Jaipongan mendadak tidak disukai oleh sejumlah pejabat Provinsi Jawa Barat pada masa Gubernur Aang Kunaefi karena dianggap terlalu erotis. Istilah 3 G ketika itu dianggap sebagai biang keladi dari erotisme itu, yakni goyang, geol, gitek. Namun ternyata hal itu toh tidak mengurangi minat masyarakat pada Jaipongan. Sebenarnya apa yang terjadi ketikaitu? Mengapa para pejabat dan elite tiba-tiba merasa gerah dengan Jaipongan?

“Ah! Saya kira itu bukan datang dari para elite. Kalau yang saya lihat itu mungkin muncul dari komunitas kesenian itu sendiri yang takut tersing­kirkan,” ujar Gugum mengenang. Ia beralasan dalam setiap event pertunjukan di Gedung Pakuan, diasendirilah yang selalu diminta ngibing oleh gubernur. Bahkan ketika ia sakit dan tak bisa menari, gubernur mengirim dokter pribadinya.

Tapi, katanya, entah siapa yang diam-diam memberi bisikan pada gubernur bahwa Jaipongan itu terlalu erotis. “Pak Aang juga menerima masukan itu, dan menyarankan pada saya, untuk mengurangi unsur erotisnya. Nah, saya tanyakan, yang erotis tuh yang kayak gimana? Beliau bilang, ya, geol, gitek, goyang.

“Lho, tari saya dari awal sampai akhir, tidak ada 20% itu gerakan geol, gitek, goyang. Kalau saja ketiga unsur itu sedikit ada, itu bukan buat mendominasi gerakan. Tapi memang dalam tari rakyat unsur erotisme itu ada. Rasa erotis di mana-mana pun ada,”paparnya.

Menurut Anda sendiri erotisme itu apa sih?

Konotasi atau sudut pandang erotis bagi saya adalah keindahan. Bukan yang mengarahkan kepada seks appeal. Sebab kalau yang disebut keindahan atau yang bisa mengusung kepada unsur erotis atau seks appeal bukan hanya goyang saya kira.

Jadi menurut Anda erotisme itu sesuatu yang alamiah begitu?

Memang kodrati. Itu dari sananya, kita nggak usah malu-malu. Tapi memang kalau dalam pertunjukan, kita harus memberikan suatu edukasi atau tanda bahwa sejauh ini kita ini masyarakat yang sangat beradab.

Ya, saya kira kalau ngomong goyang, ya, jalan juga goyang! Parfum juga bisa menimbulkan unsur erotis. Karena itu golongan elite kota besar lebih gila itu erotisnya, dari mulai parfum, sampai bedak, dan lipstik yang kalau semuanya kita cium, waaaaah! (tertawa). Belum lagi baju dan modelnya.

Tapi tampaknya sekarang pengertian erotisme selalu diarahkan pada pornografi dan imbasnya bukan tidak mungkin sampai ke tari-tari rakyat.

Ya, memang kita hidup dalam masyarakat yang heterogen. Sudut pandangnya bisa ada berbeda antara komunitas satu dan komunitas yang lainnya. Yang mayoritas dan yang minoritas. Termasuk mereka yang mengajukan hal ini supaya dibuat undang-undang (RUUAPP). Undang- undang itu kan harus esensi sekali. Apakah betul erotisme merupakan gejala kejahatan, kriminal? Maksudnya dalam pornoaksi jika yang dimaksud itu menunjuk pada gerak-gerak tari. Sebab kenapa yang bukan gerak tari tidak akan diatur, seperti berenang? Jalan kaki bagi yang bagus badannya, wanita ada juga yang pinggulnya goyang, apakah itu nanti jadi kasus? Dalam ilmu anatomi, bahwa badan atas dan kaki di bawah, semuanya juga pakai sendi. Semuanya bergantung pada apa yang ada dalam kepala orangnya. Kalau orangnya ngeres teu kuat iman, susah itu mah! Saya bukan orang yang seperti itu. Saya orang Indonesia, saya orang beragama Islam, dan orang berbudaya. Berarti beradab,sekolah. Nah, sekarang kalau undang-undang ini akan dibuat, bawalah semua bicara, supaya nantinya tidak jadi bumerang ke pemerintah itu sendiri. Kalau masyarakatnya tidak mau, bagaimana?

Kalau undang-undang itu nanti ternyata disahkan dan diterapkan, pasti Jaipongan kena yah? Termasuk juga mungkin Kliningan di pesisir Jawa Barat?

Oh, tidak! Saya bukan persoalan Jaipongan, dangdut lebih-lebih!

Berhenti itu musik dangdut! Kalau Jaipongan berapa persen goyangannya dalam satu tarian, tidak ada 20%. Di Kliningan kebanyakan orang nari laki-laki. Kalaupun perempuan dia tidak merasa harus seperti penari striptis! Memang keahliannya ada di tiap sendi tubuhnya. Ya, dia menari saja melenggak-lenggok dari atas ke bawah. Karena sendinya ada di pinggul, ya, seperti jalan kaki saja.

Kenapa kok anggota tubuh kita ini dikenakan norma yang berbeda-beda yah?
Iya, padahal itu kan pemberian Tuhan, yah!

Saya ingin balik lagi ke Jaipongan. Sejak muncul akhir tahun 1970-an sampai sekarang, sampai sejauh mana perkembangannya?

Ya, kalau pengembangannya memang tercerabut kepada segala hal. Ke Pop Sunda, ke wayang, ke calung, sampai ke gamelan Jawa, gamelan Bali, dan rock di Jerman dan di New Zealand. Tapi kebanyakan yang diambil kendangnya saja misalnya, nyanyinya saja, tariannya saja.

Memang ada beberapa penari latar lagu dangdut, yang mengeksploitasi goyang. Itu bukan tari Jaipongan! Itu tari dangdut! Itu kan musiknya bukan musik Jaipongan?! Yang disebut Tari Jaipongan itu total, tidak bisa dipereteli!

Jadi kalau diambil idiomnya saja, dan dipakai untuk tari latar dangdut, itu bukan Jaipongan ya?

Pada waktu kapan dan musiknya apa? Tari itu ada gerak ada musik.
Tidak bisa itu disebutkan tari Jaipongan. (Ahda Imran)

sumber : http://www.kasundaan.org

 

Filed under: Analisis, Budaya, Seni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 14,275 Orang

Kalender Posting

Maret 2011
M S S R K J S
« Nov   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Jadwal Waktu Shalat

Pertahankan Budaya Bangsa !

%d blogger menyukai ini: