Menghidupkan Kembali Budaya Sunda Kuno

Seribu keraguan menghinggapi pikiran saya, saat menerima tawaran untuk mengerjakan dokumentasi video situs-situs arkeologi di wilayah administrasi Jawa Barat, dalam hal ini dibawah kantor Balai Arkeologi Bandung. Bukan karena ragu akan lokasi situs-situs itu yang berada di daerah terpencil dan sulit dijangkau, ataupun persoalan dana yang pas-pasan dalam skala penggarapan (ada sekitar 49 lokasi kompleks situs dengan ratusan artefak yang harus direkam dalam format video sesuai TOR kerja yang diterima). 

Tapi satu hal yang pasti adalah bagaimana membuat situs-situs tersebut bisa dijalin dalam bentuk cerita bertutur yang bisa dicerna orang banyak dan bisa menghibur. Itulah persoalan yang selalu menghinggapi benak pikiran saya dan teman-teman dari yayasan Wahana Arkeologi, yang disingkat dengan Warna. Semua anggota civitas akademika arkeologi tahu bahwasanya obyek arkeologi adalah benda mati tak bergerak,sementara dalam dunia hiburan audio visual ada pameo: gambar yang selalu dilirik dan ditonton masyarakat adalah sebuah tayangan action, tayangan manusia-manusia yang bergerak dan membentuk sebuah cerita. Baik dalam bentuk adanya seorang presenter yang bertutur apa rasanya menjalani program di lokasi, rasa masakan dari setiap resep masakan yang dicicipinya ataupun kisah seorang aktor yang tengah berlaga mati-matian dalam cerita aksi di sinetron. Dokumentasi kali ini harus lain, karena bukan sekedar merekam situs dan artefak insitu di wilayah admin Balar Bandung, tapi diharapkan juga bisa menghidupkannya menjadi sebuah cerita yang bisa ditonton orang banyak.

Tradisi Megalitik Sebagai “Benang Merah” Cerita

Untuk mengetahui apa dan bagaimana situs-situs yang akan digarap, maka tim pun mencoba melihat-lihat kembali apa saja peninggalan situs arkeologi dari kawasan Jawa Barat. Perlu diketahui terlebih dahulu, daerah cakupan lokasi situs arkeologi di propinsi Jawa Barat ini kemudian dibatasi hanya di dua kabupaten saja, yakni di kabupaten Bogor dan kabupaten Sukabumi saja. Pihak Balar Bandung dan kantor Badan Pengembangan Sumberdaya Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menyebutnya sebagai situs di bawah kaki gunung Salak (2.211 meter diatas permukaan laut, atau dpl).

Kenapa hanya dikaki gunung ini saja, alasannya sangat sederhana, yakni untuk memudahkan pendokumentasian, karena kalau tidak akan ada terlalu banyak obyek situs yang harus direkam, sementara waktu pengerjaan hanya empat bulan saja. Tentu saja alasan ini sangat didukung oleh kami, karena mengingat juga keterbatasan waktu rekan se-tim yang juga masih melakukan pekerjaannya masing-masing. Hanya di sela waktu akhir pekan kami mengerjakannya.

Sesuai proses pengerjaan dokumenter film, langkah pertama adalah mengumpulkan data arkeologi dari semua situs. Untuk itulah seorang anggota tim yang juga arkeolog lulusan Spanyol diutus untuk mengumpulkan bahan-bahan penelitian yang sudah dilakukan terhadap situs-situs yang akan dijadikan obyek. Laporan survey, observasi permukaan, seminar dan penggalian, dikumpulkan mulai dari beberapa dekade lalu sampai laporan terkini. Data literatur berupa buku-buku yang juga sudah diterbitkan dikumpulkan.

Budeng rekan periset dari tim kami lalu menyusunnya dalam bentuk laporan pendahuluan untuk diajukan sebagai presentasi awal mengenai konsep pendokumentasian. Saya lalu merombaknya menjadi sebuah tawaran proposal membuat dokumenter drama (dokudrama). Kenapa dokudrama? karena saya merasa dokudrama adalah jawaban untuk menghidupkan kembali situs arkeologi yang mati. Awalnya saya merasa tidak perlu memakai host atau presenter karena saya lebih ingin ke style format dokudrama murni. Sebuah cita-cita yang terawang-awang saat menonton tayangan BBC Knowledge. Kesan saya jika masuk dalam style format program petualangan seperti di tayangan televisi lainnya, akan terasa kurang menggigit dari isi arkeologinya, karena lebih menonjolkan sisi petualangan. Saya merasa ini bukan program petualangan, tapi masuk genre dokumenter ilmiah populer.

Soal rating-sharing yang selalu dipusingkan setiap produser program di televisi tidak saya ambil pusing, karena saya berpikir sudah saatnya kita menampilkan program yang lain, sudah saatnya masyarakat ditawari sesuatu yang beda. Kalau tidak, tidak akan maju masyarakat kita, karena hanya melihat selalu kulit luarnya saja, sementara di luar sana, masyarakat barat dan beberapa negara maju lainnya di belahan Asia sudah melakukannya dengan membuat kanal dokumenter ilmiah populer.

Dari riset itu terlihat jelas, semua situs arkeologi di Jawa Barat berupa tinggalan tradisi megalitik yang berbentuk bangunan dari batu-batu alam saja. Tanpa ada unsur ornamen yang cantik ataupun imbuhan lainnya. Tentu saja ini kembali menjadi beban, karena dari segi bahasa gambar saja tentu tidak menarik. Pikiran saya, visual harus diakali dengan cara lain, yakni membuat re-enacment, atau rekonstruksi kegiatan manusia masa lalu di lokasi situs sesuai dengan data dan fakta dari penelitian. Dalam hal ini kami lalu melakukan diskusi mendalam dengan tim peneliti dari Balar Bandung. Naskah yang saya buat selalu dikonsultasikan dengan mereka.

Kesulitan lalu timbul, karena peneliti selalu bertahan dengan idealisme titik koma penelitian, sementara kami berpendapat harus ada ruang untuk menafsirkan dari sisi seni dan etnografi, sehingga tayangan tidak murni ilmiah dan kering. Ruang itu adalah re-enacment, rekonstruksi audio visual dari kegiatan manusia di situs itu.

Tradisi megalitik didalam kebudayaan masyarakat Sunda rupanya dipraktekkan sejak masa prasejarah sampai masa sejarah dimana kebudayaan pengaruh agama Hindu/Buddha dari India mulai dan akhirnya mempengaruhi masyarakat Sunda. Beberapa narasumber yang ditemui dalam riset menyatakan, tradisi megalitik menjadi keseharian warga Sunda. Meski agama Hindu-Buddha menjadi bagian keseharian pula, warga Sunda tetap membuat sendiri patokan agama mereka yang kini dikenal sebagai Jati Sunda, dimana praktek religi dari tradisi megalitik berupa pemujaan terhadap roh nenek moyang tetap dipraktekkan.

Riset juga melihat adanya pengaruh terhadap sekitar akibat praktek tradisi megalitik itu, yakni konsep kabuyutan, tempat suci yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh nenek moyang. Kabuyutan diyakini memberikan perlindungan terhadap alam lingkungan Jawa Barat, dimana masyarakatnya sendiri juga dikenal sebagai warga peladang yang dulunya nomaden.

Praktek hidup nomaden tentunya lebih bergantung terhadap kelestarian alam lingkungan karena seperti masyarakat tradisional lainnya di dunia, warga hidup dari pemberian alam. Walau pada masa kemudian, cara hidup nomaden sunda ini mulai tergantikan dengan cara hidup menetap, namun sisa cara hidup, terutama sisi spiritual tradisi megalitik tetap terpelihara.

Hipotesa ini lalu didukung oleh berbagai literatur naskah Sunda Kuno dan data artefaktual. Di situs Tugu Gede misalnya, tim ekskavasi dari Balar Bandung menemukan adanya artefak genta perunggu, arca tokoh, tembikar pedupaan dan wadah-wadah keramik. Dari sedikit sumber etnografi bisa dilihat adanya kemiripan dengan elemen peralatan dalam praktek agama Hindu di pura-pura Hindu dengan artefak-artefak yang ditemukan di situs tradisi megalitik Situs Gede ini. Lalu dari literatur puisi Sunda Kuno bertajuk Bujangga Manik, juga ditemukan petunjuk praktek-praktek yang menerangkan pendirian lingga sederhana berupa menhir di situs pemujaan di daerah Sunda pada sekitar abad ke-15 lalu.

Dari sisi inilah, saya lalu menyimpulkan perlu adanya pesan-pesan lingkungan diakhir cerita dokumentasi ini, sebagai sebuah buah kebijaksanaan budaya lokal Sunda. Mudah-mudahan pesan ini mudah ditangkap dalam sebuah tayangan “berat” yang diusahakan menjadi ringan dengan pendekatan popular. Satu peer bagi kami tim dokumenter adalah merumuskan kembali lebih dalam penyajian yang lebih halus, lebih dramatis dari segi tontonan bagi masyarakat sehingga pesan masa lalu tidak hanya mudah ditangkap tapi juga berkesan dan memberi inspirasi dan bekal bagi kehidupan budaya manusia Indonesia di masa kini dalam menjalani kehidupannya. Selamat menonton!!

oleh : Ocim [Jendela Budaya]

Filed under: Analisis, Budaya, Seni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 14,275 Orang

Kalender Posting

Maret 2011
M S S R K J S
« Nov   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Jadwal Waktu Shalat

Pertahankan Budaya Bangsa !

%d blogger menyukai ini: